Home / 2016

Coba kita ingat-ingat , kapan terakhir kali Ayah bermain kuda-kudaan dengan si kecil?

Atau gulat, berguling-guling, koprol, main kejar tangkap, dan segala macam permainan fisik lainnya. Padahal permainan jenis roughhousing ini ternyata manfaatnya untuk anak-anak. Selain membuat mereka tetap bugar, permainan fisik cenderung ‘kasar’ ini merupakan bagian penting dari pengembangan kecerdasan dan keterampilan sosial.

Dalam bukunya The Art of Roughhousing, penulisAnthony T. DeBenedet, MD and Lawrence J. Cohen berpendapat bahwa salah satu manfaat roughhousing adalah memberi anak-anak pengalaman untuk menyukai kontak fisik. Ini membantu anak laki-laki belajar bahwa kontak fisik tidak cuma kekerasan atau berantem, sementara untuk anak perempuan, bermain seperti nini membangun rasa percaya diri dan kekuatan hati.

“Bermain-terutama permainan fisik yang aktif seperti roughhousing- membuat anak pintar, cerdas secara emosional, lovable dan likeable, memahami etika, menyehatkan, dan fun”. kata mereka.

Jaman sekarang ini ada banyak gadget yang bikin roughhousing jadi makin asik. Atsushi Shiraishi, seorang lulus senior di Tama Art University jepang, telah menciptakan sebuah desain radikal alat bantu permainan fisik serupa ‘jungle gym’ yang bisa dipakai oleh seorang ayah. Jalinan tali temali berbentuk rompi ini dinamakan AthleTitti. dari kata athletic dan chichi (atau titti) yang berarti ayah.

Bermain dengan AtheTitti ini tentu saja lebih menjamin adanya koneksi antara anak dan ayah dibanding jungle gym biasa. Asiknya gadget ini bikin anak dan ayah sama-sama berolahraga. Selain itu kalau si kecil mau jatuh, kita bisa dengan mudah menjangkaunya.

Sayangnya, ide keren ini masih berbentuk prototype dan belum bisa dibeli  oleh bapak-bapak tarzan kecil.

Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya saya dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi sama segala sesuatu yang manis-manis. Seringkali abis makan yang manis-manis, dia batuk berdahak selama beberapa hari.

Kami lantas bikin peraturan, Rafi cuma boleh makan dan minum yang manis-manis 1 kali sebulan, yaitu setiap tanggal 30. Secara umum peraturan ini berjalan, dalam arti setiap tanggal 30 dia menikmati makanan dan minuman manis. Masalahnya, di luar tanggal 30 ‘sekali-sekali’ dia juga makan dan minum yang manis-manis.

Saat lagi makan bareng di restoran, kami pesen ice lemon tea, dia pesen juga. Sekali-sekali, kan nggak setiap hari kami jajan di restoran. Kalau lagi belanja di minimarket, saya nyomot sebungkus coklat, dia ikutan ngemil sebutir-dua butir. Sekali-sekali, kan nggak tiap hari belanja di minimarket. Kalau lagi nonton, saya beli pop corn caramel, dia juga ikutan ngemil. Sekali-sekali, kan nonton bioskop nggak setiap hari.

Nah, kumpulan ‘sekali-sekali’ makan minum manis ini kalau dijumlahin kan jadi sering juga. Akibatnya Rafi sering sekali batuk. Dalam sebulan selalu ada beberapa hari yang dilewatinya bersama batuk.

Sampai suatu hari, ada sebuah brand yang bikin kampanye ’90 Days Plan’. Program ini berisi serangkaian kegiatan produktif yang kalau dilakukan tanpa jeda selama 3 bulan berturut-turut akan menetap jadi kebiasaan. Dan kalau seseorang udah berhasil membentuk kebiasaan yang produktif, maka dia akan lebih gampang sukses. Masuk akal sih, kebiasaan positif pasti punya efek positif.

Saya lantas ingat, pola makan juga terbentuk dari kebiasaan. Orang Indonesia merasa ‘belum makan’ kalau belum makan nasi, karena sejak kecil terbiasa makan nasi. Rafi susah lepas dari yang manis-manis karena sejak kecil terbiasa makan yang manis-manis. Maka, kalau saya ingin melepaskan ketergantungan Rafi terhadap manis-manisan, dia harus terbiasa putus hubungan dengan yang manis-manis selama 3 bulan atau lebih!

Tapi, gimana caranya? Dijatahin cuma makan minum yang manis setiap tanggal 30 aja bobol melulu.

Saya pun mencoba pendekatan yang berbeda. Segala sesuatu yang ‘terlarang’ biasanya malah jadi lebih menarik. Fokusnya harus diubah. Bukan ‘manis’-nya yang terlarang, tapi harus ada sesuatu yang lebih menarik untuk menggantikan manis.

Maka saya pun mengajukan penawaran, “Rafi, Bapak punya tantangan. kalau Rafi bisa tahan nggak makan atau minum manis dalam bentuk apapun selama 30 hari, maka Rafi akan dapet uang 50 ribu. Uangnya bisa Rafi pake beli mainan. Sanggup?”

Dia mikir sebentar. “Lima puluh ribu?”

“Lima puluh ribu. Boleh untuk beli apapun.”

“Bisa!” jawabnya penuh percaya diri.

Tadinya saya kira dia lantas akan tetep rewel seperti dulu, tapi ternyata enggak. Dia cukup kuat iman, cuma kadang sesekali mengeluh, “Aku ingin sekali coklat itu!”

“Boleh. Tapi 50 ribunya batal. Mau?”

“Enggak!”

Setiap hari dia hanya minum air putih, termasuk kalau lagi makan di restoran atau lagi nonton. Coklat, cake, aneka kue manis juga nggak disentuhnya sama sekali. Yang mengharukan, di luar pengawasan kami ternyata dia juga cukup kuat iman. Saat Rafi lagi main di rumah temennya, kami dapat laporan, “Ini lho, Rafi disuguhi es sirup nggak mau, katanya lagi nggak minum manis, ya?”

Sementara itu Ida mencekoki Rafi dengan berbagai literatur, foto dan video aneka penyakit akibat terlalu banyak mengonsumsi gula.

“Nih, mau kakinya borokan kayak orang ini?”

“Enggak!”

“Lihat, orang ini beratnya 300 kilo karena terlalu banyak makan yang manis-manis. Sekarang dia nggak bisa jalan. Mau?”

“Nggak mau!”

Tepat 30 hari dia nggak makan dan minum yang manis-manis, saya mencoba mengajukan penawaran berikutnya.

“Rafi, kalau hari ini Rafi tetep bertahan nggak makan dan minum manis sampe 30 hari berikutnya, jadi total 60 hari, maka Rafi akan dapet bonus 150 ribu lagi, jadi totalnya 200 ribu. Gimana?”

“Hmmm… nggak papa deh Bapak, aku 50 ribu aja cukup.”

Maka hari itu Rafi puas-puasin makan dan minum yang manis-manis. Tapi efek 30 hari nggak ngerasain manis sama sekali rupanya mulai terjadi.

“Bapak, kue ini rasanya aneh. Aku jadi mual,” katanya.

“Itu bagus, artinya badan Rafi udah nggak terbiasa makan manis. Gimana, sanggup 30 hari bertahan gak makan dan minum yang manis?”

“Sanggup!”

Maka dia bertahan 30 hari lagi. Libur sehari untuk menikmati yang manis-manis, lalu puasa manis lagi. Sampai sekarang, udah hampir 3 bulan Rafi ‘puasa’ manis. Selama 3 bulan itu, dia sama sekali nggak pernah batuk lagi. Sistem reward-nya saya ubah sedikit, bukan lagi 50 ribu tapi saya naikin jadi 100 ribu dengan catatan semua makanan dan minuman manis yang dia beli selama hari ‘bebas manis’-nya dipotong dari uang yang 100 ribu itu.

“Bapak, aku mau beli es krim.”

“Es krimmnya mahal lho, harganya 20 ribu. Uangnya nanti tinggal 80 ribu. Nggak sayang? Mendingan buat beli mainan.”

Karena uangnya didapat dengan susah payah, Rafi belajar untuk berpikir ulang saat mau membelanjakannya. Mau beli mainan? Boleh, asal yakin mainan itu beneran sepadan dengan jerih payah mendapatkan uangnya. Dulu, Rafi sering minta dibeliin mainan telur-teluran di resto fast food jepang yang isinya action figure mini kurang penting. Sekarang, sejak harus pake uang hasil ‘puasa manis’-nya, dia nggak tertarik lagi pada mainan itu.

Yang lebih penting, dia belajar bahwa segala pilihannya punya konsekuensi. kalau dia mau menikmati konsekuensi yang nyaman, ya tinggal bikin pilihan yang tepat. Sesederhana itu.

“Bapak, gimana kalau aku mulai besok mau makan dan minum manis setiap hari, seperti dulu?”

“Jangankan besok. Sekarang pun boleh. Tapi, bapak nggak akan ngasih uang untuk beli manis-manisan. Rafi harus pake uang tabungan Rafi sendiri, yang udah Rafi kumpulin dengan susah payah selama ini. Yang kedua, Rafi jadi kehilangan kesempatan dapat 100 ribu di bulan depan. Yang ketiga, Rafi bisa batuk lagi, bahkan kena penyakit seperti yang ada di video yang dikasih lihat oleh Bunda. Gimana?”

“Nggak jadi deh. Tapi… kenapa cuma aku yang harus puasa manis-manisan? Kenapa Bapak enggak? Memangnya Bapak nggak takut kena penyakit seperti di video?”

Nah. Loh.

 

“Ayah, ini apa?” tanya Abang menyodorkan kotak hitam putih di tangannya.

“Dapat dari mana Bang?”

“Punya Pak Tukang di atas, tadi Abang sudah pinjam kok.”

Rumah kami memang sedang direnovasi, anak-anak bertambah besar dan merengek minta kamar sendiri.

Ah, saya menepok jidat. Begitu sering saya kehabisan ide aktifitas anak-anak saat weekend dan tak pernah memikirkan permainan yang sudah berumur 1500 tahun lebih ini.

Padahal saya ingat bener, dulu waktu kecil, permainan ini adalah kegembiraan malam hari. Masih teringat serunya bersama teman-teman sehabis ngaji di surau, menonton orang dewasa saling berhadapan. Berjam-jam. Sambil belajar cara mainnya. Dan kalau beruntung, orang-orang dewasa itu akan memberi kesempatan anak-anak kecil untuk main. Meski sebentar, rasanya seru banget.

Yak, saya sedang membicarakan catur. Dan sekarang saya baru sadar: Anak jaman sekarang nggak tahu catur!

Melihat Abang kebingungan memegang bidak-bidak catur, saya langsung bersemangat. This is gonna be interesting!

Anak mana yang nggak akan tertarik kalau dikasih tahu bahwa dalam permainan ini dia bisa mengatur belasan prajurit, punya benteng, kuda, panglima bahkan raja dan bisa menangkap pasukan lawan.

Itulah kemudian yang saya lakukan, menjelaskan nama-nama bidaknya ke Abang. Meskipun kemudian saya bingung antara menteri atau panglima, antara patih atau ratu. Tapi siapa yang peduli. Yang penting anak bersemangat bisa punya pasukan satu kerajaan.

Langkah selanjutnya adalah mengajak Abang mengatur posisi bidak. Dan lagi-lagi saya kebingungan alias lupa. Raja hitam di bidak hitam atau putih ya? Untung ada google. Bahkan belajar menempatkan bidak inipun begitu menyenangkan buat Abang.

Next, ini yang agak mikir dikit. Bermain ala catur beneran pasti terlalu rumit untuk anak 4 tahun. Akhirnya saya memutuskan pakai cara main seolah semua bidak adalah prajurit. Cuma bisa jalan ke depan satu langkah, jalan miring untuk menangkap lawan. Jadilah rules of the games: Jalan selangkah, tangkap miring. Abang langsung paham cara main ini.

And its fun! Ada tawa kemenangan setiap kali ada bidak yang tertangkap. Meskipun ada juga cemberut dan jerit setiap kali bidak Abang tertangkap. Tapi bagus juga buat mengajarinya kehilangan dan kekalahan.

Dan yang tidak pernah saya duga, Abang jadi belajar berhitung dengan permainan ini. Setiap kali tawanannya bertambah, dia menghitung ulang. Saya lalu memancingnya untuk menghitung tawanan saya. Semakin lama, hitungannya semakin cepat dan benar. Meskipun agak kesulitan setelah melewati angka sepuluh.

Tapi nggak apa-apa Nak, beberapa latihan lagi pasti akan lancar.

Dengan keseruan pagi ini, catur sepertinya akan jadi rutinitas kami saat weekend.

Seorang teman bercerita dengan muka sedih. “Kepala kayak habis dibogem palu raksasa” katanya.
Lalu mengalirlah cerita yang bikin kami semua yang mendengarkan kaget. Apa yang selama ini kita takutkan terjadi sama anak kita, ternyata bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Ceritanya, sang anak yang baru berumur 6 tahun, wekeend lalu menonton video-video yang menjurus pornografi. Ketahuan karena sang ayah mengecek history video yang di play di handphonenya.
Begitu dilihat dihistory search youtube, si anak yang baru bisa menulis itu mengetik “cowociumcewe”! Hasil searchnya tentu saja bisa kemana-mana, lalu nyambung ke related video yang makin menjurus dan berbahaya.

Duh!

Setelah diinterogasi, jawaban anaknya mengejutkan. Keisengan itu bermula dari anak yang menonton film Spiderman di tv kabel. Sialnya, diantara ribuan adegan, yang menancap di kepala anaknya adalah adegan saat Spidey mencium Mary Jane dalam posisi terbalik.

“Gue kecolongan” katanya. Temen satu ini bercerita bahwa sudah membatasi anak-anaknya pegang gadget termasuk nonton tv. Gadget dan TV cuma bisa ditonton saat weekend.

Hmmm, berarti soal adegan dewasa, apa yang kita anggap selesai saat menutup mata anak-anak kita pas ada adegan dewasa ternyata tidak selesai sampai disitu.Apa yang kita kira sudah difilter ternyata belum efektif. Apa yang kita anggap aman ternyata bukan.

Cerita ini langsung menyalakan alarm di kepala kami, terutama yang sudah punya anak. Diskusi kemudian berlanjut soal rating film. Tentang film-film dengan rating G, General Audience alias untuk semua umur yang ternyata belum tentu aman. Apalagi yang punya rating PG, Parental Guidance Suggested, disarankan dalam pendampingan orangtua. Padahal film-film Pixar dan Disney pun ada dirating PG ini.

Seorang teman lain lalu menceritakan strateginya, setiap kali si kecil minta nonton di bioskop. Yang dia lakukan adalah menonton film itu lebih dulu. Baru setelah menonton dan menurutnya aman, si kecil diajak. “Sedikit boros memang, tapi itu masih cara terbaik” katanya.

Kami beramai-ramai mengangguk. Tapi sehabis itu teman-teman AyahadaCom penasaran. Harusnya sudah ada yang membuat rating yang lebih detail tentang film-film yang aman buat anak selain rating standart G, PG, G-13 dan seterusnya. Jadi bisa membantu orangtua menilai sebuah film tanpa harus menontonnya lebih dulu.

Dan syukurlah setelah ngubek-ngubek internet, kami menemukannya!

Sebuah situs yang menilai film dari sudut yang lebih detail. Sistem ratingnya dinilai dari 3 kategori: Sex/Nudity, Violence/Gore, dan Profanity. Nama situsnya Kids In Mind.

Sebagai contoh situs ini menilai Jungle Book (2016) dengan rating 1.4.1, artinya dinilai 1 poin sex/nudity, ada 4 poin violence/gore dan dapat 1 poin profanity. 1 poin sex/nudity itu karena si Mogwli sepanjang film bertelanjang dada dan hanya memakai celana kain yang minim. Para reviewer juga mencatat ada 12 adegan kekerasan atau kekejaman dalam film ini. Inilah yang kemudian membuat film ini dapat rating 4 di poin violence/gore-nya.

Sementara film Angry Bird The Movie (2016) mendapat rating 3.3.2 ! Lumayan tinggi ketidak-amannya buat anak-anak. Salah satu yang dinilai berbahaya adalah ada 2 poin untuk profanity. Kata-kata kasar termasuk F word berkali-kali diucapkan oleh para burung lucu ini. Meskipun di ‘samarkan’ dengan kata ‘Flock’ atau ‘Pluck’ tetap saja itu sebuah makian.

Jadi, lain kali sebelum membawa anak-anak ke bioskop, Ayah harus memasikan sudah membaca reviewnya di kids in mind. Setelah itu pertimbangkan masak-masak untuk menolak untuk mengiyakan rengekan mereka.
Lebih mudah dan murah kan? Thanks to para ratinger dan parent reviewer di http://www.kids-in-mind.com

Berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive ke active ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus dilompati bersama.

Saya bersyukur bisa menulari anak-anak untuk jatuh cinta dengan buku. Aktifitas ini jauh lebih menentramkan buat orangtua dan bermanfaat buat masa depannya. Tugas kita tinggal mensuplai mereka dengan bacaan bermutu. Tugas filterisasi yang jauh lebih mudah daripada harus memfilter games atau tontonan mereka baik di tv maupun gadget. Masalah budget bisa disiasati dengan membeli e-book yang lebih ekonomis dibanding buku fisik. Soal buku fisik yang mahal bisa disiasati dengan rajin-rajin mantengin diskon atau pameran buku.

Buku sudah menjadi hiburan yang mengisi waktu luang anak-anak kami. Aktifitas yang berhubungan dengan buku dan membaca sudah tidak asing bagi kami. Tahun lalu, pertama kali kami mengenalkan tantangan membaca pada si kakak (9 tahun) yang ada di goodreads.com, saat itu dia memasang target 100 buku akan dibacanya pada tahun 2015 dan hasilnya sungguh mencengangkan. Dia berhasil menamatkan 163 buku! Saya yang tahu hobi satu itu saja, tetap geleng-geleng kepala melihatnya.

12471708_10208534632833109_7965279182185536703_o

Tapi berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive seperti menonton video atau main game, ke active screen time seperti membaca buku ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus diselesaikan bersama, salah satunya adalah ketersediaan buku bahan bacaan (selain pilihan yang terbatas juga dari sisi biaya), yang ini kami siasati dengan mulai beralih menggunakan ebook yang kami beli atau pinjam menggunakan akun perpustakaan. Kami menggunakan perangkat kindle reader.

Satu kali ketika menjemput dari sekolah saya menjumpai si sulung sedang duduk menyendiri di kursi lobi sekolah sambil separoh mukanya hampir masuk ke dalam tas sekolah yang dibawanya.

Sekilas saya melihat cahaya putih menyala dari dalam tas, kindle yang biasa dibawanya menyala menampilkan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata dan kalimat.

Ada sesuatu yang tidak wajar. Di perjalanan pulang saya coba bertanya kenapa kakak sembunyi-sembunyi bacanya?

Dia cerita kalau ada beberapa guru yang memperingatkan bahwa tidak boleh bawa gadget ke sekolah dan dia seharusnya tidak menggunakannya, juga tiap kali ada kakak kelas menyampaikan hal yang sama.

Dia sudah berusaha menjelaskan dengan bahasanya tapi ternyata belum bisa membuat paham. Akhirnya dia yang harus mengalah, dia memilih untuk menjauh dan sembunyi sembunyi untuk tetap bisa membaca.

2 tahun lalu saat masuk sekolah ini, kami memang sudah sadar ada aturan soal larangan siswa membawa gadget. Dan kindle memang gadget. Yang banyak orang tidak tahu, gadget ini -Kindle Paperwhite yang kami gunakan hanya bisa dipakai untuk mmebaca buku. Ini adalah deal yang cukup rumit pada awalnya, dan juga ternyata tetap rumit sampai sekarang.

Kami sudah mulai mendiskusikan penggunaan kindle reader ini sejak awal-awal masuk di sekolah. Dengan kepala sekolah, kemudian dengan guru kelas di tiap-tiap jenjang. Dan alhamdulillah semua bisa mengijinkan dengan beberapa syarat tentunya. Tapi untuk mengkomunikasikannya dengan semua civitas akademik di sekolah, kami angkat tangan. Di mata yang belum paham, kindle reader kakak adalah benda terlarang.

Ide yang ada di kepala sekarang, saya akan membuat stiker besar dengan tulisan “It’s Not Screen, It’s Book”.  

Akan saya tempel di kindle device kami. Mudah-mudahan berhasil mengubah persepsi.

 

Tantangan menjadi orangtua jaman sekarang memang tidak ada habisnya. Apalagi kalau urusannya teknologi. Buat para ayah, keasikan mengikuti perkembangan gadget dan teknologi baru ternyata harus diimbangi kecemasan terhadap pengaruh dari dark side of technology buat anak-anak kita. Termasuk sisi gelap yang menjijikkan, menakutkan, berbahaya juga pornografi yang bisa muncul dari hasil pencarian di search engine.

Cobalah masukkan keyword yang ‘aman’ di google. Kita pasti akan terkejut karena belum tentu hasil pencariannya juga aman buat anak-anak. Sangat mudah buat anak-anak kita tersesat di area hitam internet tanpa kita bisa cegah atau awasi.

Banyak orangtua yang sudah membatasi penggunaan gadget atau internet buat anak-anak, terutama untuk mereka yang berusia 7 tahun ke bawah. Tapi semakin besar anak-anak kita ada kebutuhan-kebutuhan pendidikan mereka yang mau nggak mau harus menggunakan internet. Googling data untuk mengerjakan tugas sekolah mereka misalnya.

Untungnya, sekarang ada Kiddle, search engine yang memakai engine Google, tapi bukan produk Google sendiri. Di Kiddle ada fitur yang bikin hati para Ayah sedikit tenang, ada term NSFC (not safe for child) saat menampilkan hasil pencariannya.

Kalau ada hasil pencarian yang tidak layak untuk anak-anak, robot-nya Kiddle akan tampil dan memperingatkan mereka karena ada error.

Screen Shot 2016-04-25 at 12.20.07 PM

Ternyata Kiddle editor terus menerus memilih dan menilai situs-situs mana yang aman buat anak dan menampilkan hasilnya di no 1-3. Berikutnya hasil pencarian no. 4-7 diisi situs yang bukan buat anak-anak tapi memakai bahasa yang patut dan mudah dipahami anak-anak. Semakin kebawah rangking Kiddle ditampilkan deretan situs terkenal tapi sulit dipahami oleh anak-anak. Untuk situs seperti ini , Kiddle mengandandalkan Google Safe Search untuk menyaring konten-konten yang tidak layak. Orangtua juga bisa memblok sendiri situs atau keyword tertentu.

The dark side of internet memang akan terus mengancam, tapi kehadiran Kiddle dan situs-situs lain yang didesain ramah anak bikin hati sedikit lebih tenang.

Untuk sementara.

Sampai mereka tambah gede dan lebih pinter dari bapaknya. Dan kalau mereka sudah tahu cara memakai proxy server, berarti tugas ayahnya untuk belajar lebih pinter lagi. Hehehehe…

Semangat Yah!

Ada sebuah hubungan khusus antara ayah dan anak perempuannya. Banyak yang bilang, sosok ayah akan jadi benchmark bagi seorang perempuan saat mencari pasangannya nanti. Bagaimana seorang ayah memperlakukan anaknya akan membentuk pandangan dia akan dirinya sendiri dan bagaimana dia mengharapkan perlakuan dari laki-laki lain sepanjang hidupnya.

Anak bisa belajar banyak hal dari ayahnya. Keberanian, kepercayaan diri, menghadapi tantangan, unconditional love, berpikir rasional, berani melakukan aktifitas fisik, dan banyak lagi. Sementara bagi anak, anak perempuan adalah cinta keduanya yang harus dia jaga, jangan sampai tersakiti dari apapun dan siapapun.

Untuk mengilustrasikan cinta khusus yang spesial ini, Snezhana Soosh, seorang seniman muda, membuat gambar cat air yang menyentuh di Instagramnya. Gambar-gambar ini membuktikan pada kita begitu besar perhatian ayah dalam menjaga dan mencintai anaknya.

Ayah memberikan kenyamanan dan keamanan.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca4f9e7fa__880

Dia rela memberikan apapun yang dia punya untuk putrinya.Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca638d15b__880

 

Ayah bersedia melakukan kegilaan apapun.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca5bac681__880

Tak ada yang tak mungkin dilakukan untuk putrinya.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca4b4540b__880

Secara punya cara untuk membuat anak kesayangannya tersenyum.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca4d9525b__880

Ayah akan menjadi penjaga dari ancaman apapun.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca40d76fb__880

Darinya anak belajar berfantasi dan berekspresi.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca51ec522__880

Kotor? Berantakan? Gakpapa…. Bisa dicuci!

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca484d5ec__880

 Ayah akan menyemangati: Ayo dicoba, jangan takut!

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca618bda5__880

Ayah kalah nih. Adek memang hebat!

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca54605a1__880

Bersama Ayah, anak merasa di puncak dunia.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca59868b3__880

Meski sibuk, ayah akan mencari cara untuk menunjukkan perhatiannya.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca4505595__880

Itulah kenapa, selalu berat untuk berpisah darinya.

Sweet-Pictures-About-Love-Between-Dad-and-Little-Girl-5704ca5f32468__880

Kondominium di lingkungan elit Puerto Vallarta, Meksiko yang biasanya tenang, hari itu, 30 Desember 2015, tiba-tiba menjadi gaduh. Berawal dari kecurigaan polisi lokal pada sebuah nomer telepon burunon yang kembali aktif karena dipakai untuk untuk memesan pizza, penggerebekan di lakukan. Ethan Couch, remaja asal Texas berumur 18 tahun tertangkap. Hebohnya lagi, dia tertangkap bersama ibunya, Tonya, yang menemani sang anak selama sebulan pelarian dari kejaran aparat.

3 tahun lalu, Couch menjadi headline media nasional karena dalam kondisi mabuk menabrak sekelompok orang. Empat orang tewas, dan sembilan orang lainnya luka. Karena pengaruh keluarga yang kaya raya dan tim pembela yang hebat, Couch hanya menjalani rehabilitasi dan dihukum percobaan dilarang mengonsumsi narkoba, alkohol, plus tidak boleh mengemudikan mobil selama 10 tahun.

Adalah argumentasi tim pengacara Couch yang kemudian menjadi isu besar di Amerika. Menurut Dr. G. Dick Miller, psikolog dalam tim pembela, Couch tidak perlu dipenjara karena punya penyakit ‘affluenza’. Sebuah kelainan yang menyebabkan seseorang tidak bisa memahami konsekuensi atas perbuatannya. Anak seperti ini adalah produk dari orang tua dengan disfungsional akut. Orang tua yang terlalu melindungi, memanjakan dan tidak pernah mengajari anaknya akibat dari sebuah tindakan. Dia diberi apapun yang dia mau dan tak pernah dihukum kalo melakukan kesalahan.

Argumentasi Dr. Miller itu di terima hakim. Lalu jatuhlah hukuman yang sangat ringan itu. Tapi baru berjalan 3 tahun, melalui social media, Couch tertangkap basah mabuk-mabukan. Bukti ini bisa menjebloskannya ke penjara hingga 10 tahun lamanya. Bukannya menyerahkan diri, Tonya, sang ibu malah membantu dan menemaninya lari ke Meksiko.

Affluenza adalah gabungan dari kata ‘affluence’ dan ‘influenza’, Pileknya orang kaya. Istilah yang diberikan kepada seseorang anak yang tidak sadar akibat dari tindakan. Mereka beranggapan bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan perlindungan (karena pengaruh atau kekayaan) orang tuanya.

Keinginan orang tua memberi yang terbaik untuk anaknya memang sesuatu yang alami. Tapi kapan perwujudan kasih sayang itu bebalik menjadi sesuatu yang berbahaya?

Saat orang tua memakai pengaruhnya untuk mengeluarkan mereka dari kesulitan dan masalah yang dihadapi. Juga membentengi anaknya dari kekecewaan hidup dengan kekuatan uang. Kalau kita selalu tampil sebagai dewa penyelamat, tanpa sadar kita sedang mengirim pesan: “Ayah dan Bunda tidak percaya kalau kamu bisa mengatasi masalahmu sendiri, jadi biar kami yang membereskannya”. Kalau orangtua selalu menuruti keinganan anaknya, dan juga mengguyur mereka dengan hadiah-hadiah yang sebenarnya tidak diinginkan, pesan yang terkirim adalah ”Saya punya uang. Saya berkuasa. Kamu enggak.”

Tanpa beberapa pukulan keras dalam hidup yang bisa jadi pelajaran, anak-anak tidak punya peluang untuk sadar betapa tangguh dan bijaknya mereka. Pengasuhan seperti ini ibarat tumbuh besar dalam ruangan yang penuh bantal empuk: hangat dan nyaman memang, tapi juga pengap, jenuh dan membosankan.

Apakah ini cuma menjangkiti mereka yang kaya dan berpengaruh? Sepertinya tidak. Affluenza sudah menyebar ke berbagai kalangan. Pada level yang berbeda tentu saja. Penyebabnya tentu saja gaya hidup konsumtif yang menyebar kesegala penjuru. Bukankah kita sering mendengar cerita orangtua yang berhutang bahkan bangkrut demi menuruti kemauan anak-anaknya?

Terus bagaimana cara kita menghindarkan anak-anak kita dari ‘penyakit’ affluenza ini?

Teladan adalah kunci dalam parenting. Anak-anak mencontoh apa yang mereka lihat. Di rumah tentu saja mereka melihat dan mencontoh kita, para orang tua. Apakah anak-anak lebih banyak melihat kita sering berbelanja barang mewah atau hidup sederhana? Lebih sering melihat kita membantu sesama atau sibuk dengan urusan pribadi? Apakah semua keinginan anak kita turuti dengan mudah atau kita biasakan mereka berusaha keras mendapatkan apa yang mereka inginkan?

Inspirasi terbaik dalam masalah ini adalah apa yang dilakukan Warren Buffet, salah satu orang terkaya dunia. Peter Buffet, anak bungsu dari Warren, bercerita bahwa dia baru tahu kalau ayahnya itu kaya raya saat berumur 25 tahun!

Anak-anak Warren Buffet, tumbuh besar dalam rumah dibeli ayah mereka pada tahun 1958 dan pergi ke sekolah dengan bus sekolah yang sama dengan yang dinaiki ibu mereka.

“Uang adalah tujuan hidup banyak orang. Tapi tujuan hidup ayahku adalah menjadi orang baik.” kata Peter Buffet.

Ketika Warren menyumbangkan 99% kekayaannya untuk kepentingan sosial, anak-anaknya menanggapi dengan biasa saja. “Kami tidak pernah memikirkan soal warisan, atau berharap pada suatu saat nanti kami punya hak mendapatkan sesuatu”.

“Kami tumbuh dalam sebuah rumah di mana kami harus bekerja keras menentukan jalan hidup sendiri dan berharap kami punya kehidupan yang berarti berdasarkan berbagai macam kriteria.” Tambah Peter.

Warren sendiri setiap kali ditanya bagaimana cara mendidik anak-anaknya dalam kekayaan berlimpah, dia menjawab bahwa dia ingin memeberi anak-anaknya “Secukupnya hingga mereka merasa bisa melakukan apapun, tapi jangan berlebihan yang bisa membuat mereka bisa hidup tanpa perlu melakukan apapun.”

Bill Gates, salah satu orang terkaya dunia juga, meringkasnya dalam sebuah kalimat: “Anda harus memastikan bahwa mereka merasa yakin dan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan kemampuan mereka sendiri… Mereka harus merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu bermakna dan penting.”

Siapapun kita, kaya atau miskin, bisa belajar dari Warren dan Bill bagaimana seharusnya menjadi orang tua yang super kaya tanpa harus memanjakan anaknya. Bagaimana membiarkan anak-anak hidup dengan cara mereka, menjalani kesalahan dan menikmati keberhasilan mereka sendiri. Kita perlu lebih percaya pada anak-anak kita. Mereka lebih bijaksana, lebih tanggung, dan jauh lebih pintar dan kreatif dari apa yang sanggup kita bayangkan.

Benar kata Robert Heinlein, “Don’t handicap your children by making their lives easy.”

Setuju?

Kita melihat diri kita versi kecil yang masih mentah pada anak-anak kita. Sedang mereka melihat ayahnya sebagai seorang superhero. Saat mereka masih lugu melihat kita sebagai superhero itulah, saat paling mudah mengambil hati mereka.

But they grow up so fast!

Apa yang bisa kita lakukan hari ini beberapa saat kemudian menjadi susah diulang karena fisik dan emosi mereka tumbuh dengan cepat. Kayaknya baru kemarin kita menuntunnya belajar jalan, hari ini kita sudah ngos-ngosan mengejar larinya. Kayaknya baru kemaren dia minta digandeng dan dipeluk, tiba-tiba dia sudah nggak mau lagi deket-deket ayah karena nggak mau dikatain anak manja.

Tapi sesempit apapun waktu kita, yang paling penting adalah menguatkan bonding dengan si kecil melalui kebiasaan sehari-hari.Caranya adalah dengan berinteraksi sebanyak mungkin dengan mereka. Interaksi antara bapak anak itu sangat penting bukan hanya buat kita, tapi juga untuk anak-anak karena menguatkan bonding. Kalau bondingnya kuat, maka hubungan jadi manis dan penuh warna. Koneksi dengan orang tua adalah satu-satunya alasan anak rela mengikuti aturan kita. Anak yang sudah klik dengan orangtuanya lebih mudah diajak bekerjasama.

Berikut beberapa kebiasaan yang lebih mudah kita lakukan saat mereka masih kecil untuk membangun kedekatan, dibanding saat mereka tumbuh besar nanti. Dah, percayalah, tidak lama lagi kita akan merindukan momen-momen ini.

ayahadacom-gendong

The Power of Touch
Gendong, peluk, elus dan cium menciptakan perasaan nyaman yang memicu perilaku positif pada anak. Sayangnya, makin besar mereka akan lebih sulit dan bahkan menolak untuk bersentuhan secara fisik dengan Ayahnya sendiri. Ada saja alasannya. Nggak mau dicium karena protes kumis, nggak mau digandeng karena malu sama temannya. Apalagi digendong, kali ini bukan cuma kemauan anak yang menghalangi, tapi bisa juga karena kemampuan punggung bapaknya yang sudah tak mampu mengimbangi perkembangan berat badan anaknya.

ayahadacom-main

Playfull Habit
Bermain dan tertawa hihahihi membuat Ayah dan anak nyambung karena stimulasi endorfin dan oksitoksin yang positif. Gelak tawa juga bisa mengusir kecemasan dan kejenuhan anak, membuat mereka lebih dekat dengan kita. Duduk sambil bermain bareng juga meningkatkan konsentrasi anak lho. Yuk Yah, manfaatin momen ini sebelum mereka lebih suka main bareng teman-temannya dan ‘mengusir’ kita. “Ngapain sih Ayah ikut-ikutan!”

ayahadacom-dongeng

Storytelling
Membacakan dongeng memang punya banyak manfaat buat anak. Dari pengenalan kosakata baru, meningkatkan kemampuan mendengar, melatih emosi, perasaan, dan banyak lagi. Nah, saat si kecil masih bergantung sama Ayahnya, tuturkan dan bacakan sebanyak mungkin cerita. Karena praktis kita cuma punya kesempatan sekitar 5 tahun saja. Begitu dia bisa membaca sendiri, Ayah bakal tidak dibutuhkan!

ayahadacom-curhat

Connected Conversations
Sebuah hubungan dimulai dari mendengar. Dengan mendengar, kita bisa merasakan dan melihat sesuatu dari sudut pandang anak. Mendengar lalu berempati akan membuat anak merasa dihargai. Jadi Yah, lebih sensitif lah dengan gesture anak. Tutup laptop dan letakkan handphone saat si kecil pengen curhat. Dengarkan kegelisahannya dari kecil, di jamin, sampai dia besar nanti kita akan tetap jadi teman curhat terdekatnya.

ayahadacom-ajar

Little Life Lesson
Ajari mereka hal-hal baru yang menarik perhatian mereka dan coba cari jawaban atas setiap pertanyaan yang keluar dari mulut si mungil. Kuncinya kalau nggak tahu jawabannya, jangan ngeles, cukup minta waktu untuk mencari jawaban. Bukan hanya anak yang belajar, orang tua jadinya juga ikut belajar. Banyak hal bisa diajarkan ke anak: Mengenal huruf dan angka, membaca jam, mengejar kupu-kupu, mencari posisi venus, mengikat tali sepatu, memasang dasi, melatihnya naik sepeda roda dua, memakai obeng, sampai cara membuka kemasan snack. Asiknya Yah, pelajaran tentang hal-hal sederhana itu akan mereka ingat seumur hidup!

ayahadacom-nasehat

Great Values
Mengajarkan nilai hidup, moral dan etika sebaiknya memang dilakukan sejak kecil karena akan menjadi kebiasaan baik. Menghargai orang lain, meminta maaf ketika salah, membantu yang membutuhkan, berbicara dengan sopan, berkata jujur, dan berlaku adil bahkan bisa kita ajarkan sebelum mereka berumur 5 tahun. Selain nilai-nilai itu akan lebih mudah nempel, kita juga akan lebih mudah menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang masih sederhana.

Percaya deh, waktu bersama anak ini begitu cepat berlalu. Jangan sampai kemudian kita baru sadar ada begitu banyak yang belum kita ajarkan pada anak-anak kita.

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa umur kita sebagai orang tua itu sebanding dengan umur si kecil. Kita lahir sebagai orang tua bersamaan dengan lahirnya bayi pertama kita. Kalau si sulung berumur 6 bulan, maka umur kita sebagai ayah juga baru 6 bulan. Ternyata seorang ‘bayi’ harus merawat dan mendidik seorang bayi.

Untungnya, kita bisa belajar jauh lebih cepat dari si kecil. Jadi, tugas kita adalah secepatnya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Menjadi ayah dan ibu yang matang lebih dulu sebelum berusaha membuat anak-anaknya berkembang dan matang.

Asiknya (atau membingungkannya) adalah tidak ada benar atau salah dalam parenting. Apa yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk adiknya. Apa yang lancar di satu  keluarga belum tentu bisa jalan diterapkan di keluarga lain. Trial and error.

Sebagai ayah, tugas untuk belajar dan matang itu ternyata lebih berat. Budaya, media, iklan, website, bahkan blog dipenuhi dengan konten dari sudut pandang ibu. Dunia parenting terlanjur di posisikan sebagai daerah teritorial ibu. Awalnya tentu saja karena budaya patriarki yang sangat kuat di masyarakat kita. Tugas ayah adalah bekerja pencari nafkah, tugas ibu adalah di rumah, merawat anak-anak. Kalau ibunya bekerja juga, berarti tugas ibu adalah bekerja dan merawat anak.

Media juga masih menyuarakan hal yang sama. Coba googling “peran ayah”, jangan kaget kalo banyak berita yang muncul berasal dari kolom ‘female’! Bahkan produk yang ditujukan untuk konsumen anak-anak juga melakukan hal yang sama. Bagi mereka parenting adalah dunia ibu. Meskipun dananya dari ayah, toh ibu yang membelanjakan, pikir mereka. Saya yang bekerja di dunia komunikasi periklanan pernah mendapat brief untuk membuat komunikasi yang mengajak anak-anak berpetualang, mencari pengalaman untuk mengasah keberanian dan kemandirian, di luar rumah dengan ibunya. Ayahnya dianggap tidak ada!

Lalu ayahnya harus mencari informasi tentang parenting kemana?

Apakah ayah dianggap tidak punya peran dalam parenting, atau karena terbukti selama ini tidak banyak berperan? Apakah benar statement bahwa Indonesia adalah “Fatherless Country”? Jangan-jangan banyak ayah yang ingin terlibat dalam pengasuhan anak tapi karena susah mencari ilmunya, mereka kemudian menyerah mundur pelan-pelan, lalu memberi ruang lebih banyak untuk ibunya.

Padahal, sudah begitu banyak artikel, pendapat ahli, dan hasil riset yang membuktikan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anaknya. Anak membutuhkan panutan perilaku maskulin dari ayahnya. Inspirasi tentang keberanian, kejantanan, kerja keras, kemandirian dan problem solving lebih tepat datang dari ayah. Ini penting bukan hanya untuk anak laki-laki, tapi juga untuk anak perempuan sebagai bekal kemampuannya menghadapi lawan jenis dan pasangannya nanti.

Kondisi inilah yang menjadi dasar kami merancang Ayahada.com. Sebuah media online yang menjadi ruang belajar bareng untuk para ayah. Tempat berbagi pengalaman menjadi ayah untuk generasi millineal yang penuh tantangan dan masalah baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Majalah sumber inspirasi bagaimana tetap menjadi laki-laki keren sekaligus ayah yang cool. Sebuah wadah bercampurnya tips parenting dengan rekomendasi hal-hal baru juga update berita dan hiburan dari sudut pandang seorang ayah.

Ayahada.com adalah sebuah usaha untuk menghadirkan seorang ayah di rumah. Berada di samping anak-anaknya sebagai panutan dan superhero. Ada sebagai seorang partner parenting yang akan membantu ibu dengan pengetahuan, gadget dan ilmu baru.

Karena ayah harus ADA dan berdaya untuk keluarganya.

Ayahada menerima kiriman tulisan dari #TeamAyah sedunia. Bisa curhat, sharing pengalaman, pengamatan dari sekitar dan segala hal yang berhubungan dengan dunia keayahan. Tulisan dikirim ke redaksi@ayahada.com Setiap tulisan yang dimuat akan mendapatkan honorarium.