Home / 2016 / March

Kita melihat diri kita versi kecil yang masih mentah pada anak-anak kita. Sedang mereka melihat ayahnya sebagai seorang superhero. Saat mereka masih lugu melihat kita sebagai superhero itulah, saat paling mudah mengambil hati mereka.

But they grow up so fast!

Apa yang bisa kita lakukan hari ini beberapa saat kemudian menjadi susah diulang karena fisik dan emosi mereka tumbuh dengan cepat. Kayaknya baru kemarin kita menuntunnya belajar jalan, hari ini kita sudah ngos-ngosan mengejar larinya. Kayaknya baru kemaren dia minta digandeng dan dipeluk, tiba-tiba dia sudah nggak mau lagi deket-deket ayah karena nggak mau dikatain anak manja.

Tapi sesempit apapun waktu kita, yang paling penting adalah menguatkan bonding dengan si kecil melalui kebiasaan sehari-hari.Caranya adalah dengan berinteraksi sebanyak mungkin dengan mereka. Interaksi antara bapak anak itu sangat penting bukan hanya buat kita, tapi juga untuk anak-anak karena menguatkan bonding. Kalau bondingnya kuat, maka hubungan jadi manis dan penuh warna. Koneksi dengan orang tua adalah satu-satunya alasan anak rela mengikuti aturan kita. Anak yang sudah klik dengan orangtuanya lebih mudah diajak bekerjasama.

Berikut beberapa kebiasaan yang lebih mudah kita lakukan saat mereka masih kecil untuk membangun kedekatan, dibanding saat mereka tumbuh besar nanti. Dah, percayalah, tidak lama lagi kita akan merindukan momen-momen ini.

ayahadacom-gendong

The Power of Touch
Gendong, peluk, elus dan cium menciptakan perasaan nyaman yang memicu perilaku positif pada anak. Sayangnya, makin besar mereka akan lebih sulit dan bahkan menolak untuk bersentuhan secara fisik dengan Ayahnya sendiri. Ada saja alasannya. Nggak mau dicium karena protes kumis, nggak mau digandeng karena malu sama temannya. Apalagi digendong, kali ini bukan cuma kemauan anak yang menghalangi, tapi bisa juga karena kemampuan punggung bapaknya yang sudah tak mampu mengimbangi perkembangan berat badan anaknya.

ayahadacom-main

Playfull Habit
Bermain dan tertawa hihahihi membuat Ayah dan anak nyambung karena stimulasi endorfin dan oksitoksin yang positif. Gelak tawa juga bisa mengusir kecemasan dan kejenuhan anak, membuat mereka lebih dekat dengan kita. Duduk sambil bermain bareng juga meningkatkan konsentrasi anak lho. Yuk Yah, manfaatin momen ini sebelum mereka lebih suka main bareng teman-temannya dan ‘mengusir’ kita. “Ngapain sih Ayah ikut-ikutan!”

ayahadacom-dongeng

Storytelling
Membacakan dongeng memang punya banyak manfaat buat anak. Dari pengenalan kosakata baru, meningkatkan kemampuan mendengar, melatih emosi, perasaan, dan banyak lagi. Nah, saat si kecil masih bergantung sama Ayahnya, tuturkan dan bacakan sebanyak mungkin cerita. Karena praktis kita cuma punya kesempatan sekitar 5 tahun saja. Begitu dia bisa membaca sendiri, Ayah bakal tidak dibutuhkan!

ayahadacom-curhat

Connected Conversations
Sebuah hubungan dimulai dari mendengar. Dengan mendengar, kita bisa merasakan dan melihat sesuatu dari sudut pandang anak. Mendengar lalu berempati akan membuat anak merasa dihargai. Jadi Yah, lebih sensitif lah dengan gesture anak. Tutup laptop dan letakkan handphone saat si kecil pengen curhat. Dengarkan kegelisahannya dari kecil, di jamin, sampai dia besar nanti kita akan tetap jadi teman curhat terdekatnya.

ayahadacom-ajar

Little Life Lesson
Ajari mereka hal-hal baru yang menarik perhatian mereka dan coba cari jawaban atas setiap pertanyaan yang keluar dari mulut si mungil. Kuncinya kalau nggak tahu jawabannya, jangan ngeles, cukup minta waktu untuk mencari jawaban. Bukan hanya anak yang belajar, orang tua jadinya juga ikut belajar. Banyak hal bisa diajarkan ke anak: Mengenal huruf dan angka, membaca jam, mengejar kupu-kupu, mencari posisi venus, mengikat tali sepatu, memasang dasi, melatihnya naik sepeda roda dua, memakai obeng, sampai cara membuka kemasan snack. Asiknya Yah, pelajaran tentang hal-hal sederhana itu akan mereka ingat seumur hidup!

ayahadacom-nasehat

Great Values
Mengajarkan nilai hidup, moral dan etika sebaiknya memang dilakukan sejak kecil karena akan menjadi kebiasaan baik. Menghargai orang lain, meminta maaf ketika salah, membantu yang membutuhkan, berbicara dengan sopan, berkata jujur, dan berlaku adil bahkan bisa kita ajarkan sebelum mereka berumur 5 tahun. Selain nilai-nilai itu akan lebih mudah nempel, kita juga akan lebih mudah menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang masih sederhana.

Percaya deh, waktu bersama anak ini begitu cepat berlalu. Jangan sampai kemudian kita baru sadar ada begitu banyak yang belum kita ajarkan pada anak-anak kita.

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa umur kita sebagai orang tua itu sebanding dengan umur si kecil. Kita lahir sebagai orang tua bersamaan dengan lahirnya bayi pertama kita. Kalau si sulung berumur 6 bulan, maka umur kita sebagai ayah juga baru 6 bulan. Ternyata seorang ‘bayi’ harus merawat dan mendidik seorang bayi.

Untungnya, kita bisa belajar jauh lebih cepat dari si kecil. Jadi, tugas kita adalah secepatnya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Menjadi ayah dan ibu yang matang lebih dulu sebelum berusaha membuat anak-anaknya berkembang dan matang.

Asiknya (atau membingungkannya) adalah tidak ada benar atau salah dalam parenting. Apa yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk adiknya. Apa yang lancar di satu  keluarga belum tentu bisa jalan diterapkan di keluarga lain. Trial and error.

Sebagai ayah, tugas untuk belajar dan matang itu ternyata lebih berat. Budaya, media, iklan, website, bahkan blog dipenuhi dengan konten dari sudut pandang ibu. Dunia parenting terlanjur di posisikan sebagai daerah teritorial ibu. Awalnya tentu saja karena budaya patriarki yang sangat kuat di masyarakat kita. Tugas ayah adalah bekerja pencari nafkah, tugas ibu adalah di rumah, merawat anak-anak. Kalau ibunya bekerja juga, berarti tugas ibu adalah bekerja dan merawat anak.

Media juga masih menyuarakan hal yang sama. Coba googling “peran ayah”, jangan kaget kalo banyak berita yang muncul berasal dari kolom ‘female’! Bahkan produk yang ditujukan untuk konsumen anak-anak juga melakukan hal yang sama. Bagi mereka parenting adalah dunia ibu. Meskipun dananya dari ayah, toh ibu yang membelanjakan, pikir mereka. Saya yang bekerja di dunia komunikasi periklanan pernah mendapat brief untuk membuat komunikasi yang mengajak anak-anak berpetualang, mencari pengalaman untuk mengasah keberanian dan kemandirian, di luar rumah dengan ibunya. Ayahnya dianggap tidak ada!

Lalu ayahnya harus mencari informasi tentang parenting kemana?

Apakah ayah dianggap tidak punya peran dalam parenting, atau karena terbukti selama ini tidak banyak berperan? Apakah benar statement bahwa Indonesia adalah “Fatherless Country”? Jangan-jangan banyak ayah yang ingin terlibat dalam pengasuhan anak tapi karena susah mencari ilmunya, mereka kemudian menyerah mundur pelan-pelan, lalu memberi ruang lebih banyak untuk ibunya.

Padahal, sudah begitu banyak artikel, pendapat ahli, dan hasil riset yang membuktikan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anaknya. Anak membutuhkan panutan perilaku maskulin dari ayahnya. Inspirasi tentang keberanian, kejantanan, kerja keras, kemandirian dan problem solving lebih tepat datang dari ayah. Ini penting bukan hanya untuk anak laki-laki, tapi juga untuk anak perempuan sebagai bekal kemampuannya menghadapi lawan jenis dan pasangannya nanti.

Kondisi inilah yang menjadi dasar kami merancang Ayahada.com. Sebuah media online yang menjadi ruang belajar bareng untuk para ayah. Tempat berbagi pengalaman menjadi ayah untuk generasi millineal yang penuh tantangan dan masalah baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Majalah sumber inspirasi bagaimana tetap menjadi laki-laki keren sekaligus ayah yang cool. Sebuah wadah bercampurnya tips parenting dengan rekomendasi hal-hal baru juga update berita dan hiburan dari sudut pandang seorang ayah.

Ayahada.com adalah sebuah usaha untuk menghadirkan seorang ayah di rumah. Berada di samping anak-anaknya sebagai panutan dan superhero. Ada sebagai seorang partner parenting yang akan membantu ibu dengan pengetahuan, gadget dan ilmu baru.

Karena ayah harus ADA dan berdaya untuk keluarganya.

Ayahada menerima kiriman tulisan dari #TeamAyah sedunia. Bisa curhat, sharing pengalaman, pengamatan dari sekitar dan segala hal yang berhubungan dengan dunia keayahan. Tulisan dikirim ke redaksi@ayahada.com Setiap tulisan yang dimuat akan mendapatkan honorarium.

Di layar Bapak dan Anak dinosaurus itu berjalan ke luar rumah pada gelap malam. Di depan layar, Bapak dan dua anak yang mengapitnya, menonton sambil penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian.

Poppa dan Arlo melewati pagar tanah mereka, lalu berhenti di tepi padang rumput.

Poppa Henry: Okay, now take a walk out there.

Arlo: By myself?

Poppa Henry: Go on.

Arlo: Poppa! Poppa!

Poppa Henry: Calm down. Breathe… Sometimes you gotta get through your fear to see the beauty on the other side.

Layar kemudian dipenuhi ribuan cahaya kunang-kunang yang berterbangan karena kibasan ekor Poppa dan Arlo.

Pada adegan ini saya sempatkan melirik Kakak dan Abang. Dalam gelap ruang bioskop bersemu hijau dari pantulan layar, saya masih bisa melihat jelas bibir mereka yang setengah menganga setengah tersenyum. Film ini memang penuh gambar-gambar indah, saya yakin mereka tersenyum karena ribuan cahaya kunang-kunang itu. Abang yang baru mengeja ABCD, dan Kakak yang belum lancar membaca tentu belum bisa membaca subtitle atau memahami betapa kerennya life lesson dari quote yang keluar dari mulut Poppa barusan.

“Get through your fear to see the beauty on the other side.”

Kesabaran Poppa menghandle Arlo, si bungsu yang ringkih dan penakut, juga caranya membimbing Arlo untuk mengalahkan rasa takutnya layak dicontoh ayah pemula seperti kita. Film ini memberi contoh banyak hal yang selama ini sering kita baca cuma sebagai teori parenting. Satu-satunya yang bikin cemberut adalah (spoiler alert) kebiasaan Disney yang suka ‘membunuh’ karakter ayah.

Anyway, The Good Dinosaur adalah film yang penuh aksi dan petualangan sekaligus membuai hati.  Ada rasa hangat di dada setelah menontonnya. Terutama kisah tentang sayang seorang ayah bernama Poppa. Ada banyak yang kita bisa pelajari dari cara Poppa mendidik anak-anaknya. Berikut beberapa contoh dari Poppa yang bisa Ayah terapkan untuk membuat anak lebih berani:

Berikan Contoh

Mata anak kita tertuju pada ayahnya, terutama untuk urusan keberanian. Anak-anak akan memahami seperti apa karakter berani itu, dengan melihat dan mencontoh langsung dari ayahnya. Ayah harus mempraktikkannya pada berbagai situasi. Kondisikan mereka untuk menjadi saksi saat ayah keluar dari zona nyaman. Ketika terjadi sesuatu yang menguji Ayah di depan anak, tunjukkan kepada mereka kekuatan yang Ayah miliki untuk menaklukkan ketakutan itu. Kalau dulu lari naik kursi saat melihat kecoa, sekarang di depan anak, angkat kursi itu untuk mengusir kecoa. Jadilah superhero mereka.

Poppa menunjukkan pada anak-anaknya, bagaimana menjadi apatosaurus pemberani. Ini bisa kita lihat saat adegan pengejaran di tepi sungai. Bagaimana Poppa terus mendorong Arlo untuk melawan ketakutannya. Takut tersesat, takut ketinggian, takut pada kilat yang menyambar, takut pada lingkungan baru yang belum pernah dijelajahinya. Setahap demi setahap. Ketika Arlo belum bisa memenuhi ekspektasinya, Poppa terus memberi semangat yang membesarkan hati.

Poppa: “ I just wanted you to get through your fear. I know you have it in you.”

Arlo: “But i’m not like you.”

Poppa: “You’re me and more.”

Cessss!

Beri Tantangan

Secara alamiah kita memang ingin selalu melindungi anak kita setiap saat. Namun, ayah juga harus menantang anaknya secara rutin untuk mencoba hal-hal baru terutama yang mungkin mereka takutkan. Mencicipi makanan baru, berbicara di depan orang banyak, atau bermain olahraga yang belum pernah dicoba sebelumnya. Kalau mereka berhasil mengatasi tantangan itu, jangan lupa berikan pujian. Bangun keberanian mereka dari keberanian untuk mencoba.

Kalau di film, selain memberi tantangan untuk mengalahkan rasa takutnya pada gelap, Poppa memberi tantangan buat Arlo untuk menjaga silo (lumbung) jagung mereka dari pencuri. Kalau berhasil menangkap pencurinya, Arlo baru bisa mencap telapak kakinya di dinding Silo. Mengejar ketertinggalannya dari 2 saudaranya yang lebih dulu berhasil.

Masih ingat bagaimana Poppa memompa semangat anak-anaknya untuk menaklukkan tantangan itu?

“You’ve got to earn your mark by doing something bigger than yourself.”

Melakukan sesuatu yang lebih besar dan badan besar Apatosaurus. Sesuatu!

Bermain Role Play

Jadilah kreatif. Bikin skenario yang berbeda untuk setiap situasi yang kira-kira memicu aksi  keberanian anak. Bermain imajiner ini membiasakan mereka menghadapi tekanan dan memberi mereka pengalaman sebelum mengalaminya beneran di dunia nyata. Contohnya, main role play untuk skenario bullying. Orangtua bisa berperan sebagai pembully, sekaligus mengajarkan apa yang harus dilakukan, dan juga apa juga yang harus dikatakan anak jika berhadapan dengan pembully. Percaya deh, main role play itu fun banget.

Poppa menjalankan strategi role play ini saat mengajari Arlo memasang jebakan. Poppa lalu memberi contoh  bagaimana menangani pencuri yang terjerat jebakan dengan tongkat.  ‘Kekejaman’ Poppa pada sebutir labu adalah sebuah skenario untuk mengeluarkan keberanian Arlo.

Dalam perjalanan pulang sehabis menonton, saya ingatkan kembali duo jagoan saya tentang adegan itu. Juga tentang bagaimana Arlo berubah dari dinosaurus penakut menjadi pemberani. Tentang rasa takut yang alami, tak bisa dikalahkan atau ditinggalkan, tapi hanya bisa dilalui.

Kedua jagoan ini tersenyum. Mudah-mudahan senyum kali ini karena mereka menemukan seorang idola baru bernama Arlo. Karakter ‘seumuran’ mereka yang akan mereka contoh saat mereka merasa takut. Saya jadi punya satu amunisi tambahan untuk menyemangi mereka.

“Ayo berani kayak Arlo”

Mantra itu akan saya coba besok. Saya masih punya hutang untuk membuat Abang berani menaiki sepeda roda dua, dan Kakak yang masih ketakutan berlebihan pada kecoa.

Yang kedua sepertinya lebih susah:)

Sebuah infografis berjudul “10 baby sleep position” dari situs howtobeadad.com begitu cepat di share dan menjadi viral di social media. Gambar ini memang bikin kita merasa “Gue banget nih!” Sang ilustrator dengan cerdas dan jenaka menceritakan bagaimana posisi tidur orangtua setelah hadirnya bayi. Bikin senyum lebih lebar bahkan ngakak karena penamaan posisi tidur yang juga kocak. Insightful. Kena banget!

Hidup memang berubah ketika punya anak. Banget!

Klise memang, tapi pengalaman memang membuktikannya. Dimulai dari lebih banyak popok dari pada bobok, sampai bunda lebih sering ‘dikuasai’ anaknya dibandingkan ayahnya. Prioritas dan cara hidup kita juga berubah.

Berikut beberapa tips agar kehadiran karunia terbesar ini tidak mengancam keromantisan hubungan ayah dan ibunya:

Tetap dalam satu tim
Kesalahan pertama paling sering dilakukan orantua adalah saat berbagi tugas setelah kelahiran si kecil. Ayah bekerja lebih keras sementara ibu mengasuh bayi lebih keras. Pemisahan tanggung jawab seperti ini sebenarnya awal dari jarak antara ayah dan ibu. Seharusnya, kedua orang tua tetap bekerja sebagai satu tim dalam pengasuhan anak, jangan semua diserahkan pada ibunya. Jika keduanya seimbang berbagi beban, masing-masing bisa punya waktu istirahat sementara pasangannya berjaga. Jangan lupa berikan apresiasi dan ucapkan terima kasih pada pasangan untuk usahanya membuat rumah jadi tempat yang menyenangkan.


Anak memang nomer satu, tapi pasangan bukan nomer dua!

Tanpa disadari, setelah si kecil lahir, kita cenderung lebih memberi perhatian pada anak dibanding pasangan. Coba diingat kapan terakhir kali kita membelikan mainan untuk si kecil, lalu bandingkan dengan terakhir kali kita membelikan barang untuk bundanya. Padahal mendahuluan pasangan bakal membuat sebuah segitiga positif untuk semua. Pernikahan makin mesra, anak terhindar dari over-parenting dan anak juga akan belajar kemampuan membuat hubungan yang positif. Beri perhatian kecil untuk pasangan kita, akan membuatnya merasa spesial.

Sediakan ‘couple time’
Nggak perlu ngedate keluar rumah atau menitipkan anak pada orantua. Sebenarnya, sehari-haripun kita bisa ngedate di rumah. Manfaatkan waktu setelah anak-anak tidur untuk having fun. Coba jadwalkan setiap jumat malam misalnya untuk menonton film, ditemani popocorn atau keripik. Penting untuk orangtua terus sadar bahwa kita tetap hanya sepasang insan yang sedang bercinta bukan cuma sebagai orangtua.

Pernah membayangkan bagaimana rumah Steve Jobs, founder Apple yang legendaris itu?

Kalau saya sih membayangkan rumah yang sangat canggih. Dindingnya terbuat dari panel-panel touch screen. Lampu di langit-langit yang otomatis padam saat kita menjauh. Mejanya mungkin dari susunan ipad dengan frame aluminium unibody. Lalu di dekat pintu keluar, tersedia iphone gratis untuk para tamu.

Tapi ternyata saya salah!

“Di rumah, kami membatasi penggunakan teknologi oleh anak-anak.” kata Steve Jobs saat ditanya apakah anak-anaknya suka memakai iPad.

Lho kok?

Menurut Walter Isaacson, penulis biografi Jobs, yang banyak berinteraksi langsung dengan keluarga Jobs, dia jarang melihat anak-anak Jobs memegang ipad atau bermain dengan gadget. Mereka tidak terlihat kecanduan gadget seperti anak-anak lain yang biasa dia temui!

Ternyata, bukan hanya Steve Jobs yang membatasi penggunaan gadget buat anak-anak mereka. Para inovator, investor besar, selebritas teknologi, dan CEO di Silicon Valley, pusat inovasi teknologi canggih di dunia, juga banyak yang melakukan hal yang sama.

Alasan paling masuk akal tentu saja karena mereka sadar betul bahaya yang berasa dari gadget buat anak-anak mereka. Bahaya itu bisa dari konten yang merusak seperti pornografi, bully dari anak lain, dan yang paling parah adalah kecanduan gadget.

Dengan pemahaman seperti ini, pantas kalau para profesional high-tech ini berubah menjadi para orangtua low-tech saat di rumah.

Sementara, kita para orang tua yang nggak high-tech amat ini sering membebaskan anak-anak untuk bermain gadget. Tentu saja itu karena itu jalan paling mudah untuk membuat mereka sibuk dan tidak memerlukan bantuan kita.

Kalo Steve Jobs saja membatasi anak-anaknya, kenapa kita malah membiarkan anak-anak kita?

Kita harus mulai menerapkan aturan penggunaan gadget di rumah, agar anak-anak tidak kecanduan gadget seperti yang dialami orantuanya. Berikut beberapa poin yang bisa diterapkan:

Handphone dan gadget portable tidak boleh dibawa ke tempat tidur.

Gadget bisa menggagu jam istirahat yang akan berakibat pada masalah kesehatan dan konsentrasi belajar. “This is rule No. 1: There are no screens in the bedroom. Period. Ever,” kata Chris Anderson, mantan editor majalah teknologi Wired, sekatang CEO 3D Robotics.

Tidak ada gadget di meja makan.

Makan bareng harusnya jadi ajang ngobrol dan sharing anggota keluarga.
 “Setiap sore, saat makan malam di meja panjang dekat dapur, Steve banyak mengobrol dan berdiskusi dengan anak-anaknya tentan g buku atau sejarah dan banyak hal lain. Tak ada ipad atau laptop.” Kata Walter Walter Isaacson.

Tidak ada gadget saat weekdays, terutama untuk mereka yang sudah bersekolah.

Tidak ada gadget saat weekdays, terutama untuk mereka yang sudah bersekolah. Komputer hanya diperbolehkan untuk mengerjakan PR dan tugas sekolah. 

“Kami punya aturan ketat tidak ada ‘screen time’ selain weeekend, tapi saat mereka betambah besar, aturan itu harus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah mereka.” Kata Lesley Gold, founder dan chief executive SutherlandGold Group.

Batasi penggunaan gadget berdasarkan umur.

Anak-anak dibawah umur 10 tahun yang paling rawan kecanduan harus dibatasi maksimal 2 jam per hari saat weekend. Para high-tech parent baru memberikan smartphone saat anaknya berumur 14 tahun, dan memberi mereka data plan hanya setelah lewat umur 16 tahun. 

Kuncinya adalah memberikan mereka opsi aktiitas yang menarik selain gadget. Evan Williams, founder Blogger, Twitter and Medium, menyediakan ratusan buku yang bisa dipilih dan dibaca kapanpun untuk kedua anaknya sebagai pengganti iPad.

Batasi aplikasi dalam gadget.

Batasi tipe game, program dan apps yang mungkin diakses anak-anak. Begitu juga tontonan mereka. Manfaatkan beberapa app parental kontrol seperti Kakatu di Android atau Lock2learn dan Kidoz di iPhone.

 Dick Costolo, Chief Executive Twitter, mengatakan bahwa dia dan istrinya sepakat bahwa tidak ada batasan waktu untuk memainkan gadget buat anak-anak mereka. Yang ada adalah batasan tempat. Anak-anak boleh memainkan gadget hanya di ruang keluarga.

Gadget untuk berkarya.

Anak-anak pada usia SD, bisa diperkenalkan untuk menggunakan gadget dengan tujuan berbeda. Memanfaatkan gadget untuk berkarya dan belajar computer science misalnya. 

Ali Partovi, founder iLike dan konsultan Facebook, Dropbox dan Zappos, mengatakan bahwa ada perbedaan jelas antara waktu ‘bermain’ dan waktu ‘berkarya’. Anak-anak bisa diarahkan memakai gadgetnya untuk berkarya daripada bermain game atau menonton video. Menulis, mencipta lagu, mengedit video, mendesain, atau computer programming. Dan sebelum anak-anak serius belajat STEM, mereka bisa dikenalkan dengan kehebatan para inovator seperti video inspirasi yang ada di madewithcode.org

Ok, setelah nulis poin-poin tadi lalu membacanya, saya menarik nafas dalam sekali. Kok semua yang dilarang itu semua yang saya lakukan sehari-hari ya?

Aturan itu bagian mudahnya, yang sulit memang mengikuti, memonitor, dan konsekuen dengan aturan itu. Apa kita sudah siap menjalankannya?

Demi kebaikan anak, apa sih yang nggak worthed kita lakuin:)