Home / 2016 / June

Seorang teman bercerita dengan muka sedih. “Kepala kayak habis dibogem palu raksasa” katanya.
Lalu mengalirlah cerita yang bikin kami semua yang mendengarkan kaget. Apa yang selama ini kita takutkan terjadi sama anak kita, ternyata bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Ceritanya, sang anak yang baru berumur 6 tahun, wekeend lalu menonton video-video yang menjurus pornografi. Ketahuan karena sang ayah mengecek history video yang di play di handphonenya.
Begitu dilihat dihistory search youtube, si anak yang baru bisa menulis itu mengetik “cowociumcewe”! Hasil searchnya tentu saja bisa kemana-mana, lalu nyambung ke related video yang makin menjurus dan berbahaya.

Duh!

Setelah diinterogasi, jawaban anaknya mengejutkan. Keisengan itu bermula dari anak yang menonton film Spiderman di tv kabel. Sialnya, diantara ribuan adegan, yang menancap di kepala anaknya adalah adegan saat Spidey mencium Mary Jane dalam posisi terbalik.

“Gue kecolongan” katanya. Temen satu ini bercerita bahwa sudah membatasi anak-anaknya pegang gadget termasuk nonton tv. Gadget dan TV cuma bisa ditonton saat weekend.

Hmmm, berarti soal adegan dewasa, apa yang kita anggap selesai saat menutup mata anak-anak kita pas ada adegan dewasa ternyata tidak selesai sampai disitu.Apa yang kita kira sudah difilter ternyata belum efektif. Apa yang kita anggap aman ternyata bukan.

Cerita ini langsung menyalakan alarm di kepala kami, terutama yang sudah punya anak. Diskusi kemudian berlanjut soal rating film. Tentang film-film dengan rating G, General Audience alias untuk semua umur yang ternyata belum tentu aman. Apalagi yang punya rating PG, Parental Guidance Suggested, disarankan dalam pendampingan orangtua. Padahal film-film Pixar dan Disney pun ada dirating PG ini.

Seorang teman lain lalu menceritakan strateginya, setiap kali si kecil minta nonton di bioskop. Yang dia lakukan adalah menonton film itu lebih dulu. Baru setelah menonton dan menurutnya aman, si kecil diajak. “Sedikit boros memang, tapi itu masih cara terbaik” katanya.

Kami beramai-ramai mengangguk. Tapi sehabis itu teman-teman AyahadaCom penasaran. Harusnya sudah ada yang membuat rating yang lebih detail tentang film-film yang aman buat anak selain rating standart G, PG, G-13 dan seterusnya. Jadi bisa membantu orangtua menilai sebuah film tanpa harus menontonnya lebih dulu.

Dan syukurlah setelah ngubek-ngubek internet, kami menemukannya!

Sebuah situs yang menilai film dari sudut yang lebih detail. Sistem ratingnya dinilai dari 3 kategori: Sex/Nudity, Violence/Gore, dan Profanity. Nama situsnya Kids In Mind.

Sebagai contoh situs ini menilai Jungle Book (2016) dengan rating 1.4.1, artinya dinilai 1 poin sex/nudity, ada 4 poin violence/gore dan dapat 1 poin profanity. 1 poin sex/nudity itu karena si Mogwli sepanjang film bertelanjang dada dan hanya memakai celana kain yang minim. Para reviewer juga mencatat ada 12 adegan kekerasan atau kekejaman dalam film ini. Inilah yang kemudian membuat film ini dapat rating 4 di poin violence/gore-nya.

Sementara film Angry Bird The Movie (2016) mendapat rating 3.3.2 ! Lumayan tinggi ketidak-amannya buat anak-anak. Salah satu yang dinilai berbahaya adalah ada 2 poin untuk profanity. Kata-kata kasar termasuk F word berkali-kali diucapkan oleh para burung lucu ini. Meskipun di ‘samarkan’ dengan kata ‘Flock’ atau ‘Pluck’ tetap saja itu sebuah makian.

Jadi, lain kali sebelum membawa anak-anak ke bioskop, Ayah harus memasikan sudah membaca reviewnya di kids in mind. Setelah itu pertimbangkan masak-masak untuk menolak untuk mengiyakan rengekan mereka.
Lebih mudah dan murah kan? Thanks to para ratinger dan parent reviewer di http://www.kids-in-mind.com

Berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive ke active ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus dilompati bersama.

Saya bersyukur bisa menulari anak-anak untuk jatuh cinta dengan buku. Aktifitas ini jauh lebih menentramkan buat orangtua dan bermanfaat buat masa depannya. Tugas kita tinggal mensuplai mereka dengan bacaan bermutu. Tugas filterisasi yang jauh lebih mudah daripada harus memfilter games atau tontonan mereka baik di tv maupun gadget. Masalah budget bisa disiasati dengan membeli e-book yang lebih ekonomis dibanding buku fisik. Soal buku fisik yang mahal bisa disiasati dengan rajin-rajin mantengin diskon atau pameran buku.

Buku sudah menjadi hiburan yang mengisi waktu luang anak-anak kami. Aktifitas yang berhubungan dengan buku dan membaca sudah tidak asing bagi kami. Tahun lalu, pertama kali kami mengenalkan tantangan membaca pada si kakak (9 tahun) yang ada di goodreads.com, saat itu dia memasang target 100 buku akan dibacanya pada tahun 2015 dan hasilnya sungguh mencengangkan. Dia berhasil menamatkan 163 buku! Saya yang tahu hobi satu itu saja, tetap geleng-geleng kepala melihatnya.

12471708_10208534632833109_7965279182185536703_o

Tapi berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive seperti menonton video atau main game, ke active screen time seperti membaca buku ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus diselesaikan bersama, salah satunya adalah ketersediaan buku bahan bacaan (selain pilihan yang terbatas juga dari sisi biaya), yang ini kami siasati dengan mulai beralih menggunakan ebook yang kami beli atau pinjam menggunakan akun perpustakaan. Kami menggunakan perangkat kindle reader.

Satu kali ketika menjemput dari sekolah saya menjumpai si sulung sedang duduk menyendiri di kursi lobi sekolah sambil separoh mukanya hampir masuk ke dalam tas sekolah yang dibawanya.

Sekilas saya melihat cahaya putih menyala dari dalam tas, kindle yang biasa dibawanya menyala menampilkan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata dan kalimat.

Ada sesuatu yang tidak wajar. Di perjalanan pulang saya coba bertanya kenapa kakak sembunyi-sembunyi bacanya?

Dia cerita kalau ada beberapa guru yang memperingatkan bahwa tidak boleh bawa gadget ke sekolah dan dia seharusnya tidak menggunakannya, juga tiap kali ada kakak kelas menyampaikan hal yang sama.

Dia sudah berusaha menjelaskan dengan bahasanya tapi ternyata belum bisa membuat paham. Akhirnya dia yang harus mengalah, dia memilih untuk menjauh dan sembunyi sembunyi untuk tetap bisa membaca.

2 tahun lalu saat masuk sekolah ini, kami memang sudah sadar ada aturan soal larangan siswa membawa gadget. Dan kindle memang gadget. Yang banyak orang tidak tahu, gadget ini -Kindle Paperwhite yang kami gunakan hanya bisa dipakai untuk mmebaca buku. Ini adalah deal yang cukup rumit pada awalnya, dan juga ternyata tetap rumit sampai sekarang.

Kami sudah mulai mendiskusikan penggunaan kindle reader ini sejak awal-awal masuk di sekolah. Dengan kepala sekolah, kemudian dengan guru kelas di tiap-tiap jenjang. Dan alhamdulillah semua bisa mengijinkan dengan beberapa syarat tentunya. Tapi untuk mengkomunikasikannya dengan semua civitas akademik di sekolah, kami angkat tangan. Di mata yang belum paham, kindle reader kakak adalah benda terlarang.

Ide yang ada di kepala sekarang, saya akan membuat stiker besar dengan tulisan “It’s Not Screen, It’s Book”.  

Akan saya tempel di kindle device kami. Mudah-mudahan berhasil mengubah persepsi.