Home / Inspiration  / Belajar Jadi Ayah dari Bapak Dinosaurus

Belajar Jadi Ayah dari Bapak Dinosaurus

Di layar Bapak dan Anak dinosaurus itu berjalan ke luar rumah pada gelap malam. Di depan layar, Bapak dan dua anak yang mengapitnya, menonton sambil penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian. Poppa dan Arlo melewati

Di layar Bapak dan Anak dinosaurus itu berjalan ke luar rumah pada gelap malam. Di depan layar, Bapak dan dua anak yang mengapitnya, menonton sambil penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian.

Poppa dan Arlo melewati pagar tanah mereka, lalu berhenti di tepi padang rumput.

Poppa Henry: Okay, now take a walk out there.

Arlo: By myself?

Poppa Henry: Go on.

Arlo: Poppa! Poppa!

Poppa Henry: Calm down. Breathe… Sometimes you gotta get through your fear to see the beauty on the other side.

Layar kemudian dipenuhi ribuan cahaya kunang-kunang yang berterbangan karena kibasan ekor Poppa dan Arlo.

Pada adegan ini saya sempatkan melirik Kakak dan Abang. Dalam gelap ruang bioskop bersemu hijau dari pantulan layar, saya masih bisa melihat jelas bibir mereka yang setengah menganga setengah tersenyum. Film ini memang penuh gambar-gambar indah, saya yakin mereka tersenyum karena ribuan cahaya kunang-kunang itu. Abang yang baru mengeja ABCD, dan Kakak yang belum lancar membaca tentu belum bisa membaca subtitle atau memahami betapa kerennya life lesson dari quote yang keluar dari mulut Poppa barusan.

“Get through your fear to see the beauty on the other side.”

Kesabaran Poppa menghandle Arlo, si bungsu yang ringkih dan penakut, juga caranya membimbing Arlo untuk mengalahkan rasa takutnya layak dicontoh ayah pemula seperti kita. Film ini memberi contoh banyak hal yang selama ini sering kita baca cuma sebagai teori parenting. Satu-satunya yang bikin cemberut adalah (spoiler alert) kebiasaan Disney yang suka ‘membunuh’ karakter ayah.

Anyway, The Good Dinosaur adalah film yang penuh aksi dan petualangan sekaligus membuai hati.  Ada rasa hangat di dada setelah menontonnya. Terutama kisah tentang sayang seorang ayah bernama Poppa. Ada banyak yang kita bisa pelajari dari cara Poppa mendidik anak-anaknya. Berikut beberapa contoh dari Poppa yang bisa Ayah terapkan untuk membuat anak lebih berani:

Berikan Contoh

Mata anak kita tertuju pada ayahnya, terutama untuk urusan keberanian. Anak-anak akan memahami seperti apa karakter berani itu, dengan melihat dan mencontoh langsung dari ayahnya. Ayah harus mempraktikkannya pada berbagai situasi. Kondisikan mereka untuk menjadi saksi saat ayah keluar dari zona nyaman. Ketika terjadi sesuatu yang menguji Ayah di depan anak, tunjukkan kepada mereka kekuatan yang Ayah miliki untuk menaklukkan ketakutan itu. Kalau dulu lari naik kursi saat melihat kecoa, sekarang di depan anak, angkat kursi itu untuk mengusir kecoa. Jadilah superhero mereka.

Poppa menunjukkan pada anak-anaknya, bagaimana menjadi apatosaurus pemberani. Ini bisa kita lihat saat adegan pengejaran di tepi sungai. Bagaimana Poppa terus mendorong Arlo untuk melawan ketakutannya. Takut tersesat, takut ketinggian, takut pada kilat yang menyambar, takut pada lingkungan baru yang belum pernah dijelajahinya. Setahap demi setahap. Ketika Arlo belum bisa memenuhi ekspektasinya, Poppa terus memberi semangat yang membesarkan hati.

Poppa: “ I just wanted you to get through your fear. I know you have it in you.”

Arlo: “But i’m not like you.”

Poppa: “You’re me and more.”

Cessss!

Beri Tantangan

Secara alamiah kita memang ingin selalu melindungi anak kita setiap saat. Namun, ayah juga harus menantang anaknya secara rutin untuk mencoba hal-hal baru terutama yang mungkin mereka takutkan. Mencicipi makanan baru, berbicara di depan orang banyak, atau bermain olahraga yang belum pernah dicoba sebelumnya. Kalau mereka berhasil mengatasi tantangan itu, jangan lupa berikan pujian. Bangun keberanian mereka dari keberanian untuk mencoba.

Kalau di film, selain memberi tantangan untuk mengalahkan rasa takutnya pada gelap, Poppa memberi tantangan buat Arlo untuk menjaga silo (lumbung) jagung mereka dari pencuri. Kalau berhasil menangkap pencurinya, Arlo baru bisa mencap telapak kakinya di dinding Silo. Mengejar ketertinggalannya dari 2 saudaranya yang lebih dulu berhasil.

Masih ingat bagaimana Poppa memompa semangat anak-anaknya untuk menaklukkan tantangan itu?

“You’ve got to earn your mark by doing something bigger than yourself.”

Melakukan sesuatu yang lebih besar dan badan besar Apatosaurus. Sesuatu!

Bermain Role Play

Jadilah kreatif. Bikin skenario yang berbeda untuk setiap situasi yang kira-kira memicu aksi  keberanian anak. Bermain imajiner ini membiasakan mereka menghadapi tekanan dan memberi mereka pengalaman sebelum mengalaminya beneran di dunia nyata. Contohnya, main role play untuk skenario bullying. Orangtua bisa berperan sebagai pembully, sekaligus mengajarkan apa yang harus dilakukan, dan juga apa juga yang harus dikatakan anak jika berhadapan dengan pembully. Percaya deh, main role play itu fun banget.

Poppa menjalankan strategi role play ini saat mengajari Arlo memasang jebakan. Poppa lalu memberi contoh  bagaimana menangani pencuri yang terjerat jebakan dengan tongkat.  ‘Kekejaman’ Poppa pada sebutir labu adalah sebuah skenario untuk mengeluarkan keberanian Arlo.

Dalam perjalanan pulang sehabis menonton, saya ingatkan kembali duo jagoan saya tentang adegan itu. Juga tentang bagaimana Arlo berubah dari dinosaurus penakut menjadi pemberani. Tentang rasa takut yang alami, tak bisa dikalahkan atau ditinggalkan, tapi hanya bisa dilalui.

Kedua jagoan ini tersenyum. Mudah-mudahan senyum kali ini karena mereka menemukan seorang idola baru bernama Arlo. Karakter ‘seumuran’ mereka yang akan mereka contoh saat mereka merasa takut. Saya jadi punya satu amunisi tambahan untuk menyemangi mereka.

“Ayo berani kayak Arlo”

Mantra itu akan saya coba besok. Saya masih punya hutang untuk membuat Abang berani menaiki sepeda roda dua, dan Kakak yang masih ketakutan berlebihan pada kecoa.

Yang kedua sepertinya lebih susah:)

graefikdizain@gmail.com

Ayah 2 jagoan dan 1 putri. Menulis bukan karena banyak tahu, tapi karena mengharusnya belajar untuk menjadi lebih tahu.

Review overview
1 COMMENT
  • Sri Dewi Susanty June 21, 2016

    I know it was you!

POST A COMMENT

Share This