Home / Financial  / Hati-hati, Ada Penyakit Berbahaya Karena Virus Kasih Sayang

Hati-hati, Ada Penyakit Berbahaya Karena Virus Kasih Sayang

Kondominium di lingkungan elit Puerto Vallarta, Meksiko yang biasanya tenang, hari itu, 30 Desember 2015, tiba-tiba menjadi gaduh. Berawal dari kecurigaan polisi lokal pada sebuah nomer telepon burunon yang kembali aktif karena dipakai untuk untuk

Kondominium di lingkungan elit Puerto Vallarta, Meksiko yang biasanya tenang, hari itu, 30 Desember 2015, tiba-tiba menjadi gaduh. Berawal dari kecurigaan polisi lokal pada sebuah nomer telepon burunon yang kembali aktif karena dipakai untuk untuk memesan pizza, penggerebekan di lakukan. Ethan Couch, remaja asal Texas berumur 18 tahun tertangkap. Hebohnya lagi, dia tertangkap bersama ibunya, Tonya, yang menemani sang anak selama sebulan pelarian dari kejaran aparat.

3 tahun lalu, Couch menjadi headline media nasional karena dalam kondisi mabuk menabrak sekelompok orang. Empat orang tewas, dan sembilan orang lainnya luka. Karena pengaruh keluarga yang kaya raya dan tim pembela yang hebat, Couch hanya menjalani rehabilitasi dan dihukum percobaan dilarang mengonsumsi narkoba, alkohol, plus tidak boleh mengemudikan mobil selama 10 tahun.

Adalah argumentasi tim pengacara Couch yang kemudian menjadi isu besar di Amerika. Menurut Dr. G. Dick Miller, psikolog dalam tim pembela, Couch tidak perlu dipenjara karena punya penyakit ‘affluenza’. Sebuah kelainan yang menyebabkan seseorang tidak bisa memahami konsekuensi atas perbuatannya. Anak seperti ini adalah produk dari orang tua dengan disfungsional akut. Orang tua yang terlalu melindungi, memanjakan dan tidak pernah mengajari anaknya akibat dari sebuah tindakan. Dia diberi apapun yang dia mau dan tak pernah dihukum kalo melakukan kesalahan.

Argumentasi Dr. Miller itu di terima hakim. Lalu jatuhlah hukuman yang sangat ringan itu. Tapi baru berjalan 3 tahun, melalui social media, Couch tertangkap basah mabuk-mabukan. Bukti ini bisa menjebloskannya ke penjara hingga 10 tahun lamanya. Bukannya menyerahkan diri, Tonya, sang ibu malah membantu dan menemaninya lari ke Meksiko.

Affluenza adalah gabungan dari kata ‘affluence’ dan ‘influenza’, Pileknya orang kaya. Istilah yang diberikan kepada seseorang anak yang tidak sadar akibat dari tindakan. Mereka beranggapan bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan perlindungan (karena pengaruh atau kekayaan) orang tuanya.

Keinginan orang tua memberi yang terbaik untuk anaknya memang sesuatu yang alami. Tapi kapan perwujudan kasih sayang itu bebalik menjadi sesuatu yang berbahaya?

Saat orang tua memakai pengaruhnya untuk mengeluarkan mereka dari kesulitan dan masalah yang dihadapi. Juga membentengi anaknya dari kekecewaan hidup dengan kekuatan uang. Kalau kita selalu tampil sebagai dewa penyelamat, tanpa sadar kita sedang mengirim pesan: “Ayah dan Bunda tidak percaya kalau kamu bisa mengatasi masalahmu sendiri, jadi biar kami yang membereskannya”. Kalau orangtua selalu menuruti keinganan anaknya, dan juga mengguyur mereka dengan hadiah-hadiah yang sebenarnya tidak diinginkan, pesan yang terkirim adalah ”Saya punya uang. Saya berkuasa. Kamu enggak.”

Tanpa beberapa pukulan keras dalam hidup yang bisa jadi pelajaran, anak-anak tidak punya peluang untuk sadar betapa tangguh dan bijaknya mereka. Pengasuhan seperti ini ibarat tumbuh besar dalam ruangan yang penuh bantal empuk: hangat dan nyaman memang, tapi juga pengap, jenuh dan membosankan.

Apakah ini cuma menjangkiti mereka yang kaya dan berpengaruh? Sepertinya tidak. Affluenza sudah menyebar ke berbagai kalangan. Pada level yang berbeda tentu saja. Penyebabnya tentu saja gaya hidup konsumtif yang menyebar kesegala penjuru. Bukankah kita sering mendengar cerita orangtua yang berhutang bahkan bangkrut demi menuruti kemauan anak-anaknya?

Terus bagaimana cara kita menghindarkan anak-anak kita dari ‘penyakit’ affluenza ini?

Teladan adalah kunci dalam parenting. Anak-anak mencontoh apa yang mereka lihat. Di rumah tentu saja mereka melihat dan mencontoh kita, para orang tua. Apakah anak-anak lebih banyak melihat kita sering berbelanja barang mewah atau hidup sederhana? Lebih sering melihat kita membantu sesama atau sibuk dengan urusan pribadi? Apakah semua keinginan anak kita turuti dengan mudah atau kita biasakan mereka berusaha keras mendapatkan apa yang mereka inginkan?

Inspirasi terbaik dalam masalah ini adalah apa yang dilakukan Warren Buffet, salah satu orang terkaya dunia. Peter Buffet, anak bungsu dari Warren, bercerita bahwa dia baru tahu kalau ayahnya itu kaya raya saat berumur 25 tahun!

Anak-anak Warren Buffet, tumbuh besar dalam rumah dibeli ayah mereka pada tahun 1958 dan pergi ke sekolah dengan bus sekolah yang sama dengan yang dinaiki ibu mereka.

“Uang adalah tujuan hidup banyak orang. Tapi tujuan hidup ayahku adalah menjadi orang baik.” kata Peter Buffet.

Ketika Warren menyumbangkan 99% kekayaannya untuk kepentingan sosial, anak-anaknya menanggapi dengan biasa saja. “Kami tidak pernah memikirkan soal warisan, atau berharap pada suatu saat nanti kami punya hak mendapatkan sesuatu”.

“Kami tumbuh dalam sebuah rumah di mana kami harus bekerja keras menentukan jalan hidup sendiri dan berharap kami punya kehidupan yang berarti berdasarkan berbagai macam kriteria.” Tambah Peter.

Warren sendiri setiap kali ditanya bagaimana cara mendidik anak-anaknya dalam kekayaan berlimpah, dia menjawab bahwa dia ingin memeberi anak-anaknya “Secukupnya hingga mereka merasa bisa melakukan apapun, tapi jangan berlebihan yang bisa membuat mereka bisa hidup tanpa perlu melakukan apapun.”

Bill Gates, salah satu orang terkaya dunia juga, meringkasnya dalam sebuah kalimat: “Anda harus memastikan bahwa mereka merasa yakin dan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan kemampuan mereka sendiri… Mereka harus merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu bermakna dan penting.”

Siapapun kita, kaya atau miskin, bisa belajar dari Warren dan Bill bagaimana seharusnya menjadi orang tua yang super kaya tanpa harus memanjakan anaknya. Bagaimana membiarkan anak-anak hidup dengan cara mereka, menjalani kesalahan dan menikmati keberhasilan mereka sendiri. Kita perlu lebih percaya pada anak-anak kita. Mereka lebih bijaksana, lebih tanggung, dan jauh lebih pintar dan kreatif dari apa yang sanggup kita bayangkan.

Benar kata Robert Heinlein, “Don’t handicap your children by making their lives easy.”

Setuju?

redaksi@ayahada.com

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT

Share This