Home / Activities  / Ketika Hobi Kakak Jadi Kegiatan Terlarang di Sekolah

Ketika Hobi Kakak Jadi Kegiatan Terlarang di Sekolah

Berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive ke active ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus dilompati bersama. Saya bersyukur bisa menulari anak-anak untuk jatuh cinta dengan buku. Aktifitas ini jauh lebih

Berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive ke active ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus dilompati bersama.

Saya bersyukur bisa menulari anak-anak untuk jatuh cinta dengan buku. Aktifitas ini jauh lebih menentramkan buat orangtua dan bermanfaat buat masa depannya. Tugas kita tinggal mensuplai mereka dengan bacaan bermutu. Tugas filterisasi yang jauh lebih mudah daripada harus memfilter games atau tontonan mereka baik di tv maupun gadget. Masalah budget bisa disiasati dengan membeli e-book yang lebih ekonomis dibanding buku fisik. Soal buku fisik yang mahal bisa disiasati dengan rajin-rajin mantengin diskon atau pameran buku.

Buku sudah menjadi hiburan yang mengisi waktu luang anak-anak kami. Aktifitas yang berhubungan dengan buku dan membaca sudah tidak asing bagi kami. Tahun lalu, pertama kali kami mengenalkan tantangan membaca pada si kakak (9 tahun) yang ada di goodreads.com, saat itu dia memasang target 100 buku akan dibacanya pada tahun 2015 dan hasilnya sungguh mencengangkan. Dia berhasil menamatkan 163 buku! Saya yang tahu hobi satu itu saja, tetap geleng-geleng kepala melihatnya.

12471708_10208534632833109_7965279182185536703_o

Tapi berhasil mengubah kebiasaan screen time anak-anak dari passive seperti menonton video atau main game, ke active screen time seperti membaca buku ternyata bukan ujung kemenangan. Masih ada beberapa masalah yang harus diselesaikan bersama, salah satunya adalah ketersediaan buku bahan bacaan (selain pilihan yang terbatas juga dari sisi biaya), yang ini kami siasati dengan mulai beralih menggunakan ebook yang kami beli atau pinjam menggunakan akun perpustakaan. Kami menggunakan perangkat kindle reader.

Satu kali ketika menjemput dari sekolah saya menjumpai si sulung sedang duduk menyendiri di kursi lobi sekolah sambil separoh mukanya hampir masuk ke dalam tas sekolah yang dibawanya.

Sekilas saya melihat cahaya putih menyala dari dalam tas, kindle yang biasa dibawanya menyala menampilkan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata dan kalimat.

Ada sesuatu yang tidak wajar. Di perjalanan pulang saya coba bertanya kenapa kakak sembunyi-sembunyi bacanya?

Dia cerita kalau ada beberapa guru yang memperingatkan bahwa tidak boleh bawa gadget ke sekolah dan dia seharusnya tidak menggunakannya, juga tiap kali ada kakak kelas menyampaikan hal yang sama.

Dia sudah berusaha menjelaskan dengan bahasanya tapi ternyata belum bisa membuat paham. Akhirnya dia yang harus mengalah, dia memilih untuk menjauh dan sembunyi sembunyi untuk tetap bisa membaca.

2 tahun lalu saat masuk sekolah ini, kami memang sudah sadar ada aturan soal larangan siswa membawa gadget. Dan kindle memang gadget. Yang banyak orang tidak tahu, gadget ini -Kindle Paperwhite yang kami gunakan hanya bisa dipakai untuk mmebaca buku. Ini adalah deal yang cukup rumit pada awalnya, dan juga ternyata tetap rumit sampai sekarang.

Kami sudah mulai mendiskusikan penggunaan kindle reader ini sejak awal-awal masuk di sekolah. Dengan kepala sekolah, kemudian dengan guru kelas di tiap-tiap jenjang. Dan alhamdulillah semua bisa mengijinkan dengan beberapa syarat tentunya. Tapi untuk mengkomunikasikannya dengan semua civitas akademik di sekolah, kami angkat tangan. Di mata yang belum paham, kindle reader kakak adalah benda terlarang.

Ide yang ada di kepala sekarang, saya akan membuat stiker besar dengan tulisan “It’s Not Screen, It’s Book”.  

Akan saya tempel di kindle device kami. Mudah-mudahan berhasil mengubah persepsi.

 

agous@live.com

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT

Share This