Home / Tentang Ayahada  / Menjadi Superhero yang ‘Ada’ Untuknya

Menjadi Superhero yang ‘Ada’ Untuknya

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa umur kita sebagai orang tua itu sebanding dengan umur si kecil. Kita lahir sebagai orang tua bersamaan dengan lahirnya bayi pertama kita. Kalau si sulung berumur 6 bulan, maka umur

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa umur kita sebagai orang tua itu sebanding dengan umur si kecil. Kita lahir sebagai orang tua bersamaan dengan lahirnya bayi pertama kita. Kalau si sulung berumur 6 bulan, maka umur kita sebagai ayah juga baru 6 bulan. Ternyata seorang ‘bayi’ harus merawat dan mendidik seorang bayi.

Untungnya, kita bisa belajar jauh lebih cepat dari si kecil. Jadi, tugas kita adalah secepatnya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Menjadi ayah dan ibu yang matang lebih dulu sebelum berusaha membuat anak-anaknya berkembang dan matang.

Asiknya (atau membingungkannya) adalah tidak ada benar atau salah dalam parenting. Apa yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk adiknya. Apa yang lancar di satu  keluarga belum tentu bisa jalan diterapkan di keluarga lain. Trial and error.

Sebagai ayah, tugas untuk belajar dan matang itu ternyata lebih berat. Budaya, media, iklan, website, bahkan blog dipenuhi dengan konten dari sudut pandang ibu. Dunia parenting terlanjur di posisikan sebagai daerah teritorial ibu. Awalnya tentu saja karena budaya patriarki yang sangat kuat di masyarakat kita. Tugas ayah adalah bekerja pencari nafkah, tugas ibu adalah di rumah, merawat anak-anak. Kalau ibunya bekerja juga, berarti tugas ibu adalah bekerja dan merawat anak.

Media juga masih menyuarakan hal yang sama. Coba googling “peran ayah”, jangan kaget kalo banyak berita yang muncul berasal dari kolom ‘female’! Bahkan produk yang ditujukan untuk konsumen anak-anak juga melakukan hal yang sama. Bagi mereka parenting adalah dunia ibu. Meskipun dananya dari ayah, toh ibu yang membelanjakan, pikir mereka. Saya yang bekerja di dunia komunikasi periklanan pernah mendapat brief untuk membuat komunikasi yang mengajak anak-anak berpetualang, mencari pengalaman untuk mengasah keberanian dan kemandirian, di luar rumah dengan ibunya. Ayahnya dianggap tidak ada!

Lalu ayahnya harus mencari informasi tentang parenting kemana?

Apakah ayah dianggap tidak punya peran dalam parenting, atau karena terbukti selama ini tidak banyak berperan? Apakah benar statement bahwa Indonesia adalah “Fatherless Country”? Jangan-jangan banyak ayah yang ingin terlibat dalam pengasuhan anak tapi karena susah mencari ilmunya, mereka kemudian menyerah mundur pelan-pelan, lalu memberi ruang lebih banyak untuk ibunya.

Padahal, sudah begitu banyak artikel, pendapat ahli, dan hasil riset yang membuktikan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anaknya. Anak membutuhkan panutan perilaku maskulin dari ayahnya. Inspirasi tentang keberanian, kejantanan, kerja keras, kemandirian dan problem solving lebih tepat datang dari ayah. Ini penting bukan hanya untuk anak laki-laki, tapi juga untuk anak perempuan sebagai bekal kemampuannya menghadapi lawan jenis dan pasangannya nanti.

Kondisi inilah yang menjadi dasar kami merancang Ayahada.com. Sebuah media online yang menjadi ruang belajar bareng untuk para ayah. Tempat berbagi pengalaman menjadi ayah untuk generasi millineal yang penuh tantangan dan masalah baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Majalah sumber inspirasi bagaimana tetap menjadi laki-laki keren sekaligus ayah yang cool. Sebuah wadah bercampurnya tips parenting dengan rekomendasi hal-hal baru juga update berita dan hiburan dari sudut pandang seorang ayah.

Ayahada.com adalah sebuah usaha untuk menghadirkan seorang ayah di rumah. Berada di samping anak-anaknya sebagai panutan dan superhero. Ada sebagai seorang partner parenting yang akan membantu ibu dengan pengetahuan, gadget dan ilmu baru.

Karena ayah harus ADA dan berdaya untuk keluarganya.

Ayahada menerima kiriman tulisan dari #TeamAyah sedunia. Bisa curhat, sharing pengalaman, pengamatan dari sekitar dan segala hal yang berhubungan dengan dunia keayahan. Tulisan dikirim ke redaksi@ayahada.com Setiap tulisan yang dimuat akan mendapatkan honorarium.

graefikdizain@gmail.com

Ayah 2 jagoan dan 1 putri. Menulis bukan karena banyak tahu, tapi karena mengharusnya belajar untuk menjadi lebih tahu.

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT

Share This