Home / Inspiration  / Tantangan Manis untuk Si Sweet Tooth

Tantangan Manis untuk Si Sweet Tooth

Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya saya dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi

Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya saya dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi sama segala sesuatu yang manis-manis. Seringkali abis makan yang manis-manis, dia batuk berdahak selama beberapa hari.

Kami lantas bikin peraturan, Rafi cuma boleh makan dan minum yang manis-manis 1 kali sebulan, yaitu setiap tanggal 30. Secara umum peraturan ini berjalan, dalam arti setiap tanggal 30 dia menikmati makanan dan minuman manis. Masalahnya, di luar tanggal 30 ‘sekali-sekali’ dia juga makan dan minum yang manis-manis.

Saat lagi makan bareng di restoran, kami pesen ice lemon tea, dia pesen juga. Sekali-sekali, kan nggak setiap hari kami jajan di restoran. Kalau lagi belanja di minimarket, saya nyomot sebungkus coklat, dia ikutan ngemil sebutir-dua butir. Sekali-sekali, kan nggak tiap hari belanja di minimarket. Kalau lagi nonton, saya beli pop corn caramel, dia juga ikutan ngemil. Sekali-sekali, kan nonton bioskop nggak setiap hari.

Nah, kumpulan ‘sekali-sekali’ makan minum manis ini kalau dijumlahin kan jadi sering juga. Akibatnya Rafi sering sekali batuk. Dalam sebulan selalu ada beberapa hari yang dilewatinya bersama batuk.

Sampai suatu hari, ada sebuah brand yang bikin kampanye ’90 Days Plan’. Program ini berisi serangkaian kegiatan produktif yang kalau dilakukan tanpa jeda selama 3 bulan berturut-turut akan menetap jadi kebiasaan. Dan kalau seseorang udah berhasil membentuk kebiasaan yang produktif, maka dia akan lebih gampang sukses. Masuk akal sih, kebiasaan positif pasti punya efek positif.

Saya lantas ingat, pola makan juga terbentuk dari kebiasaan. Orang Indonesia merasa ‘belum makan’ kalau belum makan nasi, karena sejak kecil terbiasa makan nasi. Rafi susah lepas dari yang manis-manis karena sejak kecil terbiasa makan yang manis-manis. Maka, kalau saya ingin melepaskan ketergantungan Rafi terhadap manis-manisan, dia harus terbiasa putus hubungan dengan yang manis-manis selama 3 bulan atau lebih!

Tapi, gimana caranya? Dijatahin cuma makan minum yang manis setiap tanggal 30 aja bobol melulu.

Saya pun mencoba pendekatan yang berbeda. Segala sesuatu yang ‘terlarang’ biasanya malah jadi lebih menarik. Fokusnya harus diubah. Bukan ‘manis’-nya yang terlarang, tapi harus ada sesuatu yang lebih menarik untuk menggantikan manis.

Maka saya pun mengajukan penawaran, “Rafi, Bapak punya tantangan. kalau Rafi bisa tahan nggak makan atau minum manis dalam bentuk apapun selama 30 hari, maka Rafi akan dapet uang 50 ribu. Uangnya bisa Rafi pake beli mainan. Sanggup?”

Dia mikir sebentar. “Lima puluh ribu?”

“Lima puluh ribu. Boleh untuk beli apapun.”

“Bisa!” jawabnya penuh percaya diri.

Tadinya saya kira dia lantas akan tetep rewel seperti dulu, tapi ternyata enggak. Dia cukup kuat iman, cuma kadang sesekali mengeluh, “Aku ingin sekali coklat itu!”

“Boleh. Tapi 50 ribunya batal. Mau?”

“Enggak!”

Setiap hari dia hanya minum air putih, termasuk kalau lagi makan di restoran atau lagi nonton. Coklat, cake, aneka kue manis juga nggak disentuhnya sama sekali. Yang mengharukan, di luar pengawasan kami ternyata dia juga cukup kuat iman. Saat Rafi lagi main di rumah temennya, kami dapat laporan, “Ini lho, Rafi disuguhi es sirup nggak mau, katanya lagi nggak minum manis, ya?”

Sementara itu Ida mencekoki Rafi dengan berbagai literatur, foto dan video aneka penyakit akibat terlalu banyak mengonsumsi gula.

“Nih, mau kakinya borokan kayak orang ini?”

“Enggak!”

“Lihat, orang ini beratnya 300 kilo karena terlalu banyak makan yang manis-manis. Sekarang dia nggak bisa jalan. Mau?”

“Nggak mau!”

Tepat 30 hari dia nggak makan dan minum yang manis-manis, saya mencoba mengajukan penawaran berikutnya.

“Rafi, kalau hari ini Rafi tetep bertahan nggak makan dan minum manis sampe 30 hari berikutnya, jadi total 60 hari, maka Rafi akan dapet bonus 150 ribu lagi, jadi totalnya 200 ribu. Gimana?”

“Hmmm… nggak papa deh Bapak, aku 50 ribu aja cukup.”

Maka hari itu Rafi puas-puasin makan dan minum yang manis-manis. Tapi efek 30 hari nggak ngerasain manis sama sekali rupanya mulai terjadi.

“Bapak, kue ini rasanya aneh. Aku jadi mual,” katanya.

“Itu bagus, artinya badan Rafi udah nggak terbiasa makan manis. Gimana, sanggup 30 hari bertahan gak makan dan minum yang manis?”

“Sanggup!”

Maka dia bertahan 30 hari lagi. Libur sehari untuk menikmati yang manis-manis, lalu puasa manis lagi. Sampai sekarang, udah hampir 3 bulan Rafi ‘puasa’ manis. Selama 3 bulan itu, dia sama sekali nggak pernah batuk lagi. Sistem reward-nya saya ubah sedikit, bukan lagi 50 ribu tapi saya naikin jadi 100 ribu dengan catatan semua makanan dan minuman manis yang dia beli selama hari ‘bebas manis’-nya dipotong dari uang yang 100 ribu itu.

“Bapak, aku mau beli es krim.”

“Es krimmnya mahal lho, harganya 20 ribu. Uangnya nanti tinggal 80 ribu. Nggak sayang? Mendingan buat beli mainan.”

Karena uangnya didapat dengan susah payah, Rafi belajar untuk berpikir ulang saat mau membelanjakannya. Mau beli mainan? Boleh, asal yakin mainan itu beneran sepadan dengan jerih payah mendapatkan uangnya. Dulu, Rafi sering minta dibeliin mainan telur-teluran di resto fast food jepang yang isinya action figure mini kurang penting. Sekarang, sejak harus pake uang hasil ‘puasa manis’-nya, dia nggak tertarik lagi pada mainan itu.

Yang lebih penting, dia belajar bahwa segala pilihannya punya konsekuensi. kalau dia mau menikmati konsekuensi yang nyaman, ya tinggal bikin pilihan yang tepat. Sesederhana itu.

“Bapak, gimana kalau aku mulai besok mau makan dan minum manis setiap hari, seperti dulu?”

“Jangankan besok. Sekarang pun boleh. Tapi, bapak nggak akan ngasih uang untuk beli manis-manisan. Rafi harus pake uang tabungan Rafi sendiri, yang udah Rafi kumpulin dengan susah payah selama ini. Yang kedua, Rafi jadi kehilangan kesempatan dapat 100 ribu di bulan depan. Yang ketiga, Rafi bisa batuk lagi, bahkan kena penyakit seperti yang ada di video yang dikasih lihat oleh Bunda. Gimana?”

“Nggak jadi deh. Tapi… kenapa cuma aku yang harus puasa manis-manisan? Kenapa Bapak enggak? Memangnya Bapak nggak takut kena penyakit seperti di video?”

Nah. Loh.

 

si.mbot@gmail.com

Review overview
1 COMMENT
  • Ichi August 7, 2016

    Hahaha.. Iya nih, Bapak ikutan puasa manis dong 😀

POST A COMMENT

Share This