Home / Gear  / Tantangan Menjadi Orangtua Low-Tech Sehebat Para Ayah High-Tech di Silicon Valley

Tantangan Menjadi Orangtua Low-Tech Sehebat Para Ayah High-Tech di Silicon Valley

Pernah membayangkan bagaimana rumah Steve Jobs, founder Apple yang legendaris itu? Kalau saya sih membayangkan rumah yang sangat canggih. Dindingnya terbuat dari panel-panel touch screen. Lampu di langit-langit yang otomatis padam saat kita menjauh. Mejanya mungkin

Pernah membayangkan bagaimana rumah Steve Jobs, founder Apple yang legendaris itu?

Kalau saya sih membayangkan rumah yang sangat canggih. Dindingnya terbuat dari panel-panel touch screen. Lampu di langit-langit yang otomatis padam saat kita menjauh. Mejanya mungkin dari susunan ipad dengan frame aluminium unibody. Lalu di dekat pintu keluar, tersedia iphone gratis untuk para tamu.

Tapi ternyata saya salah!

“Di rumah, kami membatasi penggunakan teknologi oleh anak-anak.” kata Steve Jobs saat ditanya apakah anak-anaknya suka memakai iPad.

Lho kok?

Menurut Walter Isaacson, penulis biografi Jobs, yang banyak berinteraksi langsung dengan keluarga Jobs, dia jarang melihat anak-anak Jobs memegang ipad atau bermain dengan gadget. Mereka tidak terlihat kecanduan gadget seperti anak-anak lain yang biasa dia temui!

Ternyata, bukan hanya Steve Jobs yang membatasi penggunaan gadget buat anak-anak mereka. Para inovator, investor besar, selebritas teknologi, dan CEO di Silicon Valley, pusat inovasi teknologi canggih di dunia, juga banyak yang melakukan hal yang sama.

Alasan paling masuk akal tentu saja karena mereka sadar betul bahaya yang berasa dari gadget buat anak-anak mereka. Bahaya itu bisa dari konten yang merusak seperti pornografi, bully dari anak lain, dan yang paling parah adalah kecanduan gadget.

Dengan pemahaman seperti ini, pantas kalau para profesional high-tech ini berubah menjadi para orangtua low-tech saat di rumah.

Sementara, kita para orang tua yang nggak high-tech amat ini sering membebaskan anak-anak untuk bermain gadget. Tentu saja itu karena itu jalan paling mudah untuk membuat mereka sibuk dan tidak memerlukan bantuan kita.

Kalo Steve Jobs saja membatasi anak-anaknya, kenapa kita malah membiarkan anak-anak kita?

Kita harus mulai menerapkan aturan penggunaan gadget di rumah, agar anak-anak tidak kecanduan gadget seperti yang dialami orantuanya. Berikut beberapa poin yang bisa diterapkan:

Handphone dan gadget portable tidak boleh dibawa ke tempat tidur.

Gadget bisa menggagu jam istirahat yang akan berakibat pada masalah kesehatan dan konsentrasi belajar. “This is rule No. 1: There are no screens in the bedroom. Period. Ever,” kata Chris Anderson, mantan editor majalah teknologi Wired, sekatang CEO 3D Robotics.

Tidak ada gadget di meja makan.

Makan bareng harusnya jadi ajang ngobrol dan sharing anggota keluarga.
 “Setiap sore, saat makan malam di meja panjang dekat dapur, Steve banyak mengobrol dan berdiskusi dengan anak-anaknya tentan g buku atau sejarah dan banyak hal lain. Tak ada ipad atau laptop.” Kata Walter Walter Isaacson.

Tidak ada gadget saat weekdays, terutama untuk mereka yang sudah bersekolah.

Tidak ada gadget saat weekdays, terutama untuk mereka yang sudah bersekolah. Komputer hanya diperbolehkan untuk mengerjakan PR dan tugas sekolah. 

“Kami punya aturan ketat tidak ada ‘screen time’ selain weeekend, tapi saat mereka betambah besar, aturan itu harus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah mereka.” Kata Lesley Gold, founder dan chief executive SutherlandGold Group.

Batasi penggunaan gadget berdasarkan umur.

Anak-anak dibawah umur 10 tahun yang paling rawan kecanduan harus dibatasi maksimal 2 jam per hari saat weekend. Para high-tech parent baru memberikan smartphone saat anaknya berumur 14 tahun, dan memberi mereka data plan hanya setelah lewat umur 16 tahun. 

Kuncinya adalah memberikan mereka opsi aktiitas yang menarik selain gadget. Evan Williams, founder Blogger, Twitter and Medium, menyediakan ratusan buku yang bisa dipilih dan dibaca kapanpun untuk kedua anaknya sebagai pengganti iPad.

Batasi aplikasi dalam gadget.

Batasi tipe game, program dan apps yang mungkin diakses anak-anak. Begitu juga tontonan mereka. Manfaatkan beberapa app parental kontrol seperti Kakatu di Android atau Lock2learn dan Kidoz di iPhone.

 Dick Costolo, Chief Executive Twitter, mengatakan bahwa dia dan istrinya sepakat bahwa tidak ada batasan waktu untuk memainkan gadget buat anak-anak mereka. Yang ada adalah batasan tempat. Anak-anak boleh memainkan gadget hanya di ruang keluarga.

Gadget untuk berkarya.

Anak-anak pada usia SD, bisa diperkenalkan untuk menggunakan gadget dengan tujuan berbeda. Memanfaatkan gadget untuk berkarya dan belajar computer science misalnya. 

Ali Partovi, founder iLike dan konsultan Facebook, Dropbox dan Zappos, mengatakan bahwa ada perbedaan jelas antara waktu ‘bermain’ dan waktu ‘berkarya’. Anak-anak bisa diarahkan memakai gadgetnya untuk berkarya daripada bermain game atau menonton video. Menulis, mencipta lagu, mengedit video, mendesain, atau computer programming. Dan sebelum anak-anak serius belajat STEM, mereka bisa dikenalkan dengan kehebatan para inovator seperti video inspirasi yang ada di madewithcode.org

Ok, setelah nulis poin-poin tadi lalu membacanya, saya menarik nafas dalam sekali. Kok semua yang dilarang itu semua yang saya lakukan sehari-hari ya?

Aturan itu bagian mudahnya, yang sulit memang mengikuti, memonitor, dan konsekuen dengan aturan itu. Apa kita sudah siap menjalankannya?

Demi kebaikan anak, apa sih yang nggak worthed kita lakuin:)

graefikdizain@gmail.com

Ayah 2 jagoan dan 1 putri. Menulis bukan karena banyak tahu, tapi karena mengharusnya belajar untuk menjadi lebih tahu.

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT

Share This