Home / Activities  / Weekend Asik Dengan Boardgame Kuno

Weekend Asik Dengan Boardgame Kuno

"Ayah, ini apa?" tanya Abang menyodorkan kotak hitam putih di tangannya. "Dapat dari mana Bang?" "Punya Pak Tukang di atas, tadi Abang sudah pinjam kok." Rumah kami memang sedang direnovasi, anak-anak bertambah besar dan merengek minta kamar sendiri. Ah,

“Ayah, ini apa?” tanya Abang menyodorkan kotak hitam putih di tangannya.

“Dapat dari mana Bang?”

“Punya Pak Tukang di atas, tadi Abang sudah pinjam kok.”

Rumah kami memang sedang direnovasi, anak-anak bertambah besar dan merengek minta kamar sendiri.

Ah, saya menepok jidat. Begitu sering saya kehabisan ide aktifitas anak-anak saat weekend dan tak pernah memikirkan permainan yang sudah berumur 1500 tahun lebih ini.

Padahal saya ingat bener, dulu waktu kecil, permainan ini adalah kegembiraan malam hari. Masih teringat serunya bersama teman-teman sehabis ngaji di surau, menonton orang dewasa saling berhadapan. Berjam-jam. Sambil belajar cara mainnya. Dan kalau beruntung, orang-orang dewasa itu akan memberi kesempatan anak-anak kecil untuk main. Meski sebentar, rasanya seru banget.

Yak, saya sedang membicarakan catur. Dan sekarang saya baru sadar: Anak jaman sekarang nggak tahu catur!

Melihat Abang kebingungan memegang bidak-bidak catur, saya langsung bersemangat. This is gonna be interesting!

Anak mana yang nggak akan tertarik kalau dikasih tahu bahwa dalam permainan ini dia bisa mengatur belasan prajurit, punya benteng, kuda, panglima bahkan raja dan bisa menangkap pasukan lawan.

Itulah kemudian yang saya lakukan, menjelaskan nama-nama bidaknya ke Abang. Meskipun kemudian saya bingung antara menteri atau panglima, antara patih atau ratu. Tapi siapa yang peduli. Yang penting anak bersemangat bisa punya pasukan satu kerajaan.

Langkah selanjutnya adalah mengajak Abang mengatur posisi bidak. Dan lagi-lagi saya kebingungan alias lupa. Raja hitam di bidak hitam atau putih ya? Untung ada google. Bahkan belajar menempatkan bidak inipun begitu menyenangkan buat Abang.

Next, ini yang agak mikir dikit. Bermain ala catur beneran pasti terlalu rumit untuk anak 4 tahun. Akhirnya saya memutuskan pakai cara main seolah semua bidak adalah prajurit. Cuma bisa jalan ke depan satu langkah, jalan miring untuk menangkap lawan. Jadilah rules of the games: Jalan selangkah, tangkap miring. Abang langsung paham cara main ini.

And its fun! Ada tawa kemenangan setiap kali ada bidak yang tertangkap. Meskipun ada juga cemberut dan jerit setiap kali bidak Abang tertangkap. Tapi bagus juga buat mengajarinya kehilangan dan kekalahan.

Dan yang tidak pernah saya duga, Abang jadi belajar berhitung dengan permainan ini. Setiap kali tawanannya bertambah, dia menghitung ulang. Saya lalu memancingnya untuk menghitung tawanan saya. Semakin lama, hitungannya semakin cepat dan benar. Meskipun agak kesulitan setelah melewati angka sepuluh.

Tapi nggak apa-apa Nak, beberapa latihan lagi pasti akan lancar.

Dengan keseruan pagi ini, catur sepertinya akan jadi rutinitas kami saat weekend.

redaksi@ayahada.com

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT

Share This